Deforestasi di Kalimantan terus meningkat, didorong oleh praktik ladang berpindah yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Dayak. Praktik ini, meskipun menjaga kesuburan tanah, secara tidak langsung mempercepat hilangnya hutan dan menurunkan keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem rotasi tanaman dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian hutan Kalimantan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Desa Peripin dan Desa Rintau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif terhadap enam petani yang telah menerapkan sistem rotasi tanaman selama lebih dari dua musim tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem rotasi tanaman dapat meningkatkan hasil panen sebesar 30%, mengurangi penggunaan pestisida hingga 25%, serta mengurangi kebutuhan pembukaan lahan baru sebesar 30%. Selain itu, rotasi tanaman berkontribusi terhadap peningkatan biodiversitas hingga 40%, yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem lahan pertanian. Petani yang menerapkan sistem ini melaporkan peningkatan produktivitas tanah dan penurunan kerusakan lahan, yang berimplikasi pada pengurangan deforestasi di sekitar area pertanian. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa sistem rotasi tanaman merupakan solusi efektif yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kelestarian hutan Kalimantan. Direkomendasikan agar pemerintah memperluas program pelatihan rotasi tanaman dan memberikan insentif berupa subsidi benih, pupuk organik, dan bantuan teknis untuk mendorong adopsi sistem ini di kalangan petani lokal. Crop Rotation System in Land Utilization to Balance Human Needs and Natural Sustainability of Kalimantan ForestAbstractDeforestation in Kalimantan continues to escalate, driven by shifting cultivation practices deeply rooted in the traditions of the Dayak community. While this practice helps maintain soil fertility, it indirectly accelerates forest loss and reduces biodiversity. This study aims to evaluate the effectiveness of crop rotation systems in balancing human needs with the conservation of Kalimantan's forests. A qualitative case study approach was conducted in Peripin and Rintau Villages, Sanggau Regency, West Kalimantan. Data collection involved semi-structured interviews and participatory observations with six farmers who have implemented crop rotation systems for more than two planting seasons. The findings reveal that crop rotation increases yields by 30%, reduces pesticide use by up to 25%, and decreases the need for new land clearing by 30%. Additionally, crop rotation enhances biodiversity by 40%, contributing to the ecological balance of agricultural lands. Farmers who adopted this system reported improved soil productivity and reduced land degradation, leading to a significant reduction in deforestation around farming areas. The study concludes that crop rotation systems provide an effective solution that supports food security while promoting forest conservation in Kalimantan. It is recommended that the government expand crop rotation training programs and provide incentives such as seed subsidies, organic fertilizers, and technical assistance to encourage the adoption of this system among local farmers.