Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

UPAYA MENJAGA LABUAN BAJO SEBAGAI SUSTAINABLE TOURISM MELALUI PRINSIP SUSTAINABILITY DAN BLUE ECONOMY Upa, Karin Amari; Tidore, Mashita Dewi
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 5 No. 8 (2024): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v5i8.7330

Abstract

This journal discusses efforts to preserve Labuan Bajo as a sustainable tourism destination by applying the principles of sustainability and the concept of the blue economy. Labuan Bajo, which is one of the main tourist destinations in Indonesia, needs to maintain a balance between its tourist attractions and the conservation of the surrounding environment. This journal identifies strategic steps that can be taken to encourage the development of sustainable tourism in the area. The methodology used in this research is library research, which indicates that maintaining Labuan Bajo as a sustainable tourism destination requires active involvement from the local community, relevant stakeholders, and government support. Several proposed strategies for implementing sustainability include responsible tourism promotion, the development of environmentally friendly infrastructure, and empowering the local community to participate in the tourism industry. These steps are expected to create sustainable benefits for the environment, economy, and the well-being of the local community. Jurnal ini membahas upaya-upaya untuk menjaga Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dan konsep ekonomi biru. Labuan Bajo, yang merupakan salah satu tujuan wisata utama di Indonesia, perlu menjaga keseimbangan antara daya tarik wisatanya dengan kelestarian alam sekitar. Jurnal ini mengidentifikasi langkah-langkah strategis yang dapat diambil untuk mendorong pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di wilayah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research, yang menunjukkan bahwa untuk mempertahankan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan, diperlukan keterlibatan aktif dari masyarakat lokal, pemangku kepentingan terkait, serta dukungan pemerintah. Beberapa langkah implementasi strategi berkelanjutan yang diusulkan meliputi promosi wisata yang bertanggung jawab, pengembangan infrastruktur yang ramah lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat setempat untuk ikut serta dalam industri pariwisata. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan manfaat yang berkelanjutan baik untuk lingkungan, ekonomi, maupun kesejahteraan masyarakat setempat.
ANALISIS DAMPAK GEMPA DAN TSUNAMI PASIGALA (PALU-SIGI-DONGGALA) TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT PESISIR PANTAI TALISE KOTA PALU Lede, Moh. Raihan Putra; Tidore, Mashita Dewi
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 6 No. 2 (2024): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v6i2.8245

Abstract

The earthquake and tsunami that struck Palu City on September 28, 2018 was one of the biggest disasters experienced by the people of Palu City in the 21st century. The number of damaged facilities and casualties paralyzed social and economic activities, especially coastal communities. Talise Beach suffered particularly heavy damage, given that it was the most affected by the tsunami. This caused many people to lose their livelihoods around the Talise Beach area, leaving them to find alternatives to fulfill their needs. Therefore, this article is written to find out how much impact the disaster has caused and how coastal communities can adapt in restoring their economy after the disaster. Gempa Bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu pada tanggal 28 September 2018 merupakan salah satu bencana terbesar yang dialami oleh masyarakat Kota Palu di abad 21. Banyaknya fasilitas yang rusak dan korban yang berjatuhan melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi, khususnya masyarakat pesisir pantai. Pantai Talise mengalami kerusakan yang sangat berat, mengingat bahwa pantai ini merupakan tempat yang paling terdampak tsunami. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian di sekitar kawasan Pantai Talise sehingga menyebabkan mereka harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu, artikel ini ditulis untuk mengetahui seberapa besar dampak bencana yang ditimbulkan dan bagaimana masyarakat pesisir dapat beradaptasi dalam memulihkan ekonominya pasca bencana.
INTEGRASI HUKUM DAN KEBIJAKAN MELALUI PENDEKATAN MULTIDIMENSI UNTUK SINERGI EKONOMI BIRU BERKELANJUTAN ASEAN: STUDI KASUS SELAT MALAKA Igirisa, Firhan; Tidore, Mashita Dewi
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 6 No. 4 (2024): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v6i4.8945

Abstract

The integration of legal frameworks and maritime policies, as well as regulations and coordination among ASEAN members, presents significant potential for sustainable development and enhanced regional cooperation. The Strait of Malacca is a critical global shipping route, presenting both challenges and opportunities in the blue economy. Although ASEAN countries face difficulties in harmonizing maritime policies and resolving territorial disputes, the multilateral legal framework based on ASEAN offers opportunities for more effective collaboration. A sustainability-based approach in maritime sectors, including sustainable fisheries, ocean-based renewable energy, and eco-friendly tourism, offers substantial economic potential. In the long term, stronger legal integration can bolster ASEAN's global competitiveness, support food security, and contribute to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs). Despite the complex challenges, successful integration of ASEAN's maritime policies can create a stable, secure, and sustainable region, with positive impacts for both the region and the world. Integrasi kerangka hukum serta kebijakan maritim, karena regulasi dan koordinasi di antara ASEAN memberikan potensi besar untuk pengembangan berkelanjutan dan penguatan kerja sama regional. Selat Malaka adalah jalur pelayaran global yang sangat vital, dan bersamaan menghadirkan tantangan dan peluang dalam ekonomi biru. Meskipun negara-negara ASEAN menghadapi tantangan dalam harmonisasi kebijakan maritim dan penyelesaian klaim teritorial, kerangka hukum multilateral berbasis ASEAN memberikan peluang untuk kolaborasi yang lebih efektif. Pendekatan berbasis keberlanjutan dalam sektor kelautan, termasuk perikanan berkelanjutan, energi terbarukan berbasis laut, dan pariwisata ramah lingkungan, menawarkan potensi ekonomi yang besar. Dalam jangka panjang, integrasi hukum yang lebih kuat dapat memperkuat daya saing global ASEAN, mendukung ketahanan pangan, dan membantu pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Meskipun tantangan yang dihadapi kompleks, keberhasilan dalam integrasi kebijakan maritim ASEAN dapat menciptakan kawasan yang stabil, aman, dan berkelanjutan, dengan dampak positif bagi kawasan dan dunia.