Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola komunikasi antara anak perempuan dengan ayah yang berstatus sebagai orang tua tunggal (single father) di wilayah Jabodetabek, khususnya dalam konteks peran ibu yang telah meninggal dunia. Melalui pendekatan konstruktivis dan studi naratif, penelitian ini menggali dinamika sosial dan personal dalam komunikasi keluarga, dengan menggunakan observasi dan wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan data. Penelitian ini menemukan bahwa komunikasi antara anak perempuan dan single father cenderung langsung dan to the point, yang sering kali mengurangi kedalaman emosional dalam hubungan mereka. Hambatan utama dalam komunikasi ini mencakup kesulitan menemukan waktu bersama, ketidakhadiran peran ibu, serta perbedaan respon ayah terhadap kebutuhan emosional anak perempuan. Penggunaan media sosial, seperti WhatsApp, terbukti menjadi alat yang efektif dalam menjembatani celah komunikasi, dengan memberikan fleksibilitas dan kenyamanan dalam interaksi. Meski komunikasi digital memiliki keterbatasan dalam hal isyarat non-verbal, media ini mampu menciptakan ruang bagi keterbukaan emosional yang lebih besar. Melalui teori Computer-Mediated Communication (CMC) dan Social Information Processing, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan yang kuat dan bermakna dapat terbentuk melalui komunikasi digital, meskipun terbatas pada pesan berbasis teks. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara komunikasi langsung dan pemanfaatan teknologi dalam membangun hubungan yang sehat antara anak perempuan dan ayah sebagai single father, terutama dalam kondisi ketidakhadiran ibu. Kata Kunci : Komunikasi keluarga, single father, anak perempuan, Computer-Mediated Communication (CMC), keterbukaan emosional.