Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Anesthetic Management of a Pediatric Patient with Popliteal Pterygium Syndrome Undergoing Labiopalatoplasty: A Case Report Peter Leonardo; Novita Anggraeni; Vera Muharrami
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 9 No. 2 (2025): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v9i2.1200

Abstract

Background: Popliteal pterygium syndrome (PPS) is a rare congenital disorder characterized by multiple anomalies, including orofacial, musculoskeletal, and genitourinary defects. Airway management in PPS patients can be challenging due to associated craniofacial abnormalities. This case report describes the anesthetic management of a 5-month-old infant with PPS undergoing labiopalatoplasty. Case presentation: A 5-month-old male infant, weighing 5.9 kg, presented for labiopalatoplasty. He had a diagnosis of PPS with associated labiopalatoschisis, ankyloblepharon filiforme, pterygium in the popliteal fossa, cryptorchidism, and syndactyly. Airway assessment revealed a patent airway with a cleft lip and palate. Anesthesia was induced with sevoflurane and maintained with sevoflurane and nitrous oxide. Direct laryngoscopy was unsuccessful, and videolaryngoscopy was used to facilitate tracheal intubation. Conclusion: This case highlights the challenges of airway management in infants with PPS. A thorough preoperative airway assessment and the availability of alternative intubation techniques, such as videolaryngoscopy, are crucial for successful anesthetic management in these patients.
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar untuk Siswa SMA Negeri 4 Mandau, Duri Dino Irawan; Novita Anggraeni; Ricko Yorinda Putra; Annissa Shafira Pardede; Peter Leonardo; Yori Yarson Ton
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v7i1.7124

Abstract

Kemampuan serta pemahaman mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) sangatlah penting karena dapat membekali seseorang dengan kemampuan dasar untuk menolong korban dalam berbagai keadaan gawat darurat, bencana, maupun insiden sehari-hari. Pelatihan mengenai BHD penting diperkenalkan sejak usia dini. Diharapkan kegiatan ini dapat memperluas wawasan dan keterampilan remaja dalam memberikan pertolongan pertama, khususnya pada situasi gawat darurat. Idealnya, seluruh masyarakat memiliki keterampilan dasar pertolongan pertama melalui pelatihan rutin agar pengetahuan tetap terjaga. Berdasarkan hal tersebut, kegiatan penyuluhan dan pelatihan BHD diberikan kepada siswa SMA Negeri 4 Mandau. Tujuan program ini adalah meningkatkan pemahaman serta keterampilan remaja dalam melakukan BHD saat menghadapi keadaan darurat. Pelatihan mengenai BHD dilakukan dengan penyampaian materi serta praktik langsung. Pelatihan mengenai BHD ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Mandau dalam kegiatan edukasi dan pelatihan sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil penilaian menunjukkan bahwa sebelum pelatihan sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan rendah (83,4%). Setelah diberikan pelatihan, terjadi peningkatan, dimana tidak ada peserta yang bepengetahun kurang, sebanyak 56,6% peserta mencapai kategori baik dan 44,4% berada pada kategori cukup. Selama kegiatan, siswa berkesempatan melakukan praktik Resusitasi Jantung Paru (RJP) menggunakan manekin dengan pendampingan instruktur, sehingga mayoritas telah mampu melakukan prosedur sesuai standar. Dengan melihat hasil diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan dan keterampilan mengenai BHD sangat penting untuk diperkenalkan sejak usia remaja