Tuberkulosis (TB) penyakit menular kronis yang menjadi perhatian utama dunia, indonesia menduduki peringakat kedua tertinggi didunia, di Kabupaten Lampung Barat kasus tuberkulosis pada tahun 2023 mengalami kenaikan. Analisis spasial bermanfaat untuk memahami pola peneyebaran kasus TB serta keterkaitan spasial antara TB dan determinan pada daerah beresiko. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan analisis spasial menggunakan Aplikasi QGIS dan metode overlay) dengan populasi pada kasus Tuberkulosis di 15 kecamatan Kabupaten Lampung Barat dan menggunakan data sekunder dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) di Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat serta BPS Kabupaten Lampung Barat tahun 2023. Hasil penelitian ini mengidentifikasi Balik Bukit dengan kasus tertinggi (214 kasus), sementara kasus TB baru lebih banyak ditemukan pada laki-laki (289 kasus) dibandingkan perempuan (199 kasus). Kecamatan Kebun Tebu memiliki kepadatan penduduk terpadat (347,52 jiwa/km²) dengan 36 kasus TB, meskipun Balik Bukit memiliki jumlah kasus tertinggi dan kepadatan yang lebih rendah (285,57 jiwa/km²). Di sisi lain, daerah dengan ketinggian 667 mdpl, seperti Balik Bukit, mencatat 214 kasus TB, sementara Kecamatan Pagar Dewa, dengan ketinggian 457 mdpl, hanya mencatat 6 kasus. Selain itu, total riwayat kontak mencapai 1.521, dengan Balik Bukit memiliki jumlah tertinggi (600 riwayat), sedangkan Lombok Semuning mencatat 100% pengobatan lengkap di antara 10 kasus, sementara Sekincau memiliki pengobatan lengkap terendah (14,6%) dari 37 kasus. Kecamatan dengan populasi laki-laki tinggi, seperti Balik Bukit, memiliki angka tuberkulosis (TB) yang lebih tinggi akibat kepadatan penduduk, ketinggian, dan riwayat kontak, penelitian selanjutnya harus menggali faktor risiko dan meningkatkan edukasi serta layanan kesehatan TB.Kata Kunci: Tuberkulosis (TB); Analisis Spasial; Lampung Barat; Riwayar Kontak;Pengobatan Lengkap