Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Aktivitas Fisik pada Lansia dengan Kadar Serum Asam Urat di Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan Astin Mandalika; Lydia Tantoso
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.241

Abstract

Hiperurisemia merupakan gangguan metabolik yang sering terjadi pada lansia, ditandai dengan peningkatan kadar asam urat dalam darah yang dapat menyebabkan penyakit gout dan komplikasi lainnya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kadar asam urat adalah aktivitas fisik. Namun, hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kadar asam urat pada lansia masih memerlukan penelitian lebih lanjut, khususnya di wilayah dengan karakteristik populasi spesifik seperti Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara aktivitas fisik dan kadar serum asam urat pada lansia di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Asam urat yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti gout, terutama pada usia lanjut. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional melibatkan 259 lansia dengan pengukuran aktivitas fisik melalui kuesioner dan kadar asam urat menggunakan alat pengukur asam urat. Analisis statistik dilakukan untuk menentukan hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kadar asam urat dalam darah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (61,8%) memiliki tingkat aktivitas fisik tinggi, dan 64,1% responden tidak mengalami hiperurisemia. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kadar serum asam urat (p-value = 0,000). PRR menunjukkan bahwa risiko hiperurisemia pada lansia dengan aktivitas fisik tinggi adalah 0,191 kali dibandingkan lansia dengan aktivitas fisik rendah (95% CI: 0,130-0,281). Aktivitas fisik yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar serum asam urat yang lebih rendah pada lansia di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Temuan ini menyoroti pentingnya promosi aktivitas fisik sebagai strategi pengelolaan hiperurisemia pada lansia. Penelitian lebih lanjut dengan desain longitudinal diperlukan untuk mendukung hasil ini.
Hubungan Aktivitas Fisik pada Lansia dengan Kadar Serum Asam Urat di Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan Astin Mandalika; Lydia Tantoso
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.241

Abstract

Hiperurisemia merupakan gangguan metabolik yang sering terjadi pada lansia, ditandai dengan peningkatan kadar asam urat dalam darah yang dapat menyebabkan penyakit gout dan komplikasi lainnya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kadar asam urat adalah aktivitas fisik. Namun, hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kadar asam urat pada lansia masih memerlukan penelitian lebih lanjut, khususnya di wilayah dengan karakteristik populasi spesifik seperti Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara aktivitas fisik dan kadar serum asam urat pada lansia di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Asam urat yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti gout, terutama pada usia lanjut. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional melibatkan 259 lansia dengan pengukuran aktivitas fisik melalui kuesioner dan kadar asam urat menggunakan alat pengukur asam urat. Analisis statistik dilakukan untuk menentukan hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan kadar asam urat dalam darah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (61,8%) memiliki tingkat aktivitas fisik tinggi, dan 64,1% responden tidak mengalami hiperurisemia. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kadar serum asam urat (p-value = 0,000). PRR menunjukkan bahwa risiko hiperurisemia pada lansia dengan aktivitas fisik tinggi adalah 0,191 kali dibandingkan lansia dengan aktivitas fisik rendah (95% CI: 0,130-0,281). Aktivitas fisik yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar serum asam urat yang lebih rendah pada lansia di Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Temuan ini menyoroti pentingnya promosi aktivitas fisik sebagai strategi pengelolaan hiperurisemia pada lansia. Penelitian lebih lanjut dengan desain longitudinal diperlukan untuk mendukung hasil ini.
Evaluation of Neutrophil-Lymphocyte Ratio and Platelet-Lymphocyte Ratio in Diabetic Kidney Disease Patients: A Hospital-Based Cross-Sectional Analysis I Made Satya Pramana Jaya; Lydia Tantoso
Indonesian Journal of Medicine Vol.11 No.1 (2026)
Publisher : Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26911/theijmed.2026.11.1.890

Abstract

Background: Diabetes mellitus represents a chronic metabolic disorder with globally increasing prevalence and is one of the leading causes of microvascular complications such as diabetic kidney disease (DKD). Chronic inflammation plays a crucial role in DKD pathogenesis, prompting exploration of simple inflammatory markers such as neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) and platelet-to-lymphocyte ratio (PLR). This study aimed to determine the relationship between NLR and PLR values with the incidence of DKD. Subject and Methods: This cross-sectional study employed consecutive non-random sampling technique. The study population consisted of all patients visiting Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng Hospital from January to April 2025, totaling 128 respondents. Secondary data from medical records were analyzed using Chi-Square test to determine associations between NLR and PLR (categorized as high vs low) with diabetic kidney disease incidence. Statistical analysis employed Chi-Square test with significance set at p<0.050. Results: Among 128 respondents, 64 (50.00%) were diagnosed with diabetic kidney disease. High NLR group comprised 101 respondents (78.90%), with 50 (39.10%) having DKD. High PLR group totaled 32 respondents (25.00%), with 19 (14.80%) having DKD. NLR demonstrated no significant association with DKD incidence (PR= 0.96; CI95% 0.48 to 1.41; p=0.828). PLR also showed no significant association with DKD incidence (PR= 0.89; CI95% 0.52 to 1.53; p=0.552). Conclusion: Neither NLR nor PLR demonstrates a significant relationship with diabetic kidney disease incidence at Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng Hospital. These findings suggest that NLR and PLR cannot be used as standalone predictors for DKD and should be considered alongside other clinical parameters in comprehensive diabetes management protocols.