Muchlis, Ibrohim
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERNIKAHAN PEREMPUAN KLAN BA’ALWI (SYARIFAH) DENGAN PRIA NON KLAN BA’ALWI DI DESA GALIS KECAMATAN GALIS KABUPATEN BANGKALAN MADURA DALAM PERSPEKTIF FIKH DAN SOSIOLOGI Muchlis, Ibrohim
AL - IBRAH Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v9i2.413

Abstract

Penelitian ini mengkaji aspek fikh dan sosiologi dari peristiwa pernikahan perempuan syarifah dari klan ba’alawi yang bernama Syarifah Nawira Vad’aq dengan seorang pria diluar klan Ba’alawi yang bernama Badrul Qomar, dimana penelitian ini menggunakan konsep Kafa’ah (kesetaraan dalam aspek nasab) dari aspek fikh, dan empat teori sosial yaitu stratifikasi sosial, norma dan nilai budaya, mobilitas sosial dan perubahan sosial, meskipun peneliti lebih cenderung dengan teori perubahan sosial. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan etnografi sebagai alat mengetahui sejarah klan Ba’alawi sekaligus tradisi pernikahan endogaminya, dan pendekatan Studi Kasus yang mana penelitian ini hanya tertuju kepada subjek penelitian Syarifah Nawira Vad’aq dan Badrul Qamar di Desa Galis Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan Madura. Dan hasil penelitian menunjukkan adanya keteganangan antara memertahankan tradisi dan perubahan sosial yang lebih modern, hal tersebut terbukti keduanya dapat diterima kembali di keluarga besar Syarifah Nawira Vad’aq setelah 6 tahun pernikahan setelah ia melahirkan seorang anak laki-laki. Penelitian ini juga bisa memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika hukum dan sosial terkait pernikahan endogami dikalangan ba’alawi itu sendiri dan masyarakat Madura pada umumnya. Serta implikasi terhadap perubahan norma sosial dikalangan Islam tradisional yang tetap bertahan akan tradisinya.
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Muchlis, Ibrohim; Wahed, Abd
AL - IBRAH Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v7i1.186

Abstract

Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek dari seluruh ajaran Islam, sebab tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan kehidupan manusia, yaitu menciptakan pribadi yang selalu bertakwa kepada Allah SWT, dan dapat mencapai kehidupan bahagia dunia dan akhirat. Dalam konteks sosial kemasyarakatan, bangsa dan negara, maka pribadi yang bertakwa ini menjadi rahmatan lil alamin, baik dalam skala kecil maupun besar. Tujuan hidup manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut juga sebagai tujuan akhir pendidikan Islam. Tujuan tersebut lebih praktis, sehingga konsep pendidikan Islam tidak sekedar idealisasi beberapa ajaran Islam semata. Dengan kerangka tujuan yang lebih praktis tersebut dapat dirumuskan beberapa harapan tertentu dalam tahapan proses pendidikan, sekaligus nilai dari hasil yang telah tercapai. Tujuan khusus tersebut bertahap pada penguasaan anak didik kepada bimbingan yang diberikan dalam berbagai aspek, yaitu pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, keterampilan, atau dengan istilah lain kognitif, efektif, dan motorik. Dari berbagai tahapan inilah kemudian muncul tujuan yang lebih terperinci dan lengkap dengan berbagai materi, metode, dan sistem evaluasi yang disebut dengan kurikulum dan diperinci lagi menjadi silabus dari berbagai materi bimbingan yang akan diberikan kepada anak didik. Perkembang zaman menjadikan pendidikan Islam pasang surut baik mulai dari masa kejayaan hingga masa ruhtuhnya pendidikan islam itu sendiri. Masa kejayaan pendidikan islam diwarnai oleh pemahaman dalam bidang, matematika yang dikembangkan menjadi teori bilangan, aljabar, geometri analitis dan trigonometri. Kemudian dibidang fisika dan dikembangkan menjadi ilmu mekanika dan optika, lalu dalam bidang geologi dan dikembangkan menjadi geodesi, mineralogi dan meteorolgi. Sedangkan pada masa kemudurannya pendidikan islam bermula pada setelah pola pemikiran rasional diambil alih oleh pengembangan barat dan dunia Islam meninggalkan poleh pemikiran tersebut dan beralih terhadap kehidupan kebatinan, sehingga mengabaikan perkembangan dunia material, dan dampaknya ialah pola pendidikan islam yang dikembangkan tidak lagi menghasilkan pendidikan dan budaya material, hingga dari aspek inilah pendidikan islam dan kebudayaannya mengalami kemunduran.
PERNIKAHAN PEREMPUAN KLAN BA’ALWI (SYARIFAH) DENGAN PRIA NON KLAN BA’ALWI DI DESA GALIS KECAMATAN GALIS KABUPATEN BANGKALAN MADURA DALAM PERSPEKTIF FIKH DAN SOSIOLOGI Muchlis, Ibrohim
AL - IBRAH Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v9i2.413

Abstract

Penelitian ini mengkaji aspek fikh dan sosiologi dari peristiwa pernikahan perempuan syarifah dari klan ba’alawi yang bernama Syarifah Nawira Vad’aq dengan seorang pria diluar klan Ba’alawi yang bernama Badrul Qomar, dimana penelitian ini menggunakan konsep Kafa’ah (kesetaraan dalam aspek nasab) dari aspek fikh, dan empat teori sosial yaitu stratifikasi sosial, norma dan nilai budaya, mobilitas sosial dan perubahan sosial, meskipun peneliti lebih cenderung dengan teori perubahan sosial. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan etnografi sebagai alat mengetahui sejarah klan Ba’alawi sekaligus tradisi pernikahan endogaminya, dan pendekatan Studi Kasus yang mana penelitian ini hanya tertuju kepada subjek penelitian Syarifah Nawira Vad’aq dan Badrul Qamar di Desa Galis Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan Madura. Dan hasil penelitian menunjukkan adanya keteganangan antara memertahankan tradisi dan perubahan sosial yang lebih modern, hal tersebut terbukti keduanya dapat diterima kembali di keluarga besar Syarifah Nawira Vad’aq setelah 6 tahun pernikahan setelah ia melahirkan seorang anak laki-laki. Penelitian ini juga bisa memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika hukum dan sosial terkait pernikahan endogami dikalangan ba’alawi itu sendiri dan masyarakat Madura pada umumnya. Serta implikasi terhadap perubahan norma sosial dikalangan Islam tradisional yang tetap bertahan akan tradisinya.