Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Seorang Pasien Perempuan Usia 24 Tahun P1A0 dengan SLE Prima Kusumandaru, Novierta; Fitriani R. W, Calcarina
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 8 (2024): Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i8.233

Abstract

SLE, atau lupus eritematosus sistemik, adalah penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi individu dari berbagai kelompok usia dan latar belakang etnis di Indonesia. Meskipun tidak ada data spesifik mengenai prevalensi SLE di Indonesia, penyakit ini lebih umum terjadi pada wanita usia subur. Faktor genetik, lingkungan, dan hormonal dapat memainkan peran dalam perkembangan SLE, namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap tentang karakteristik demografis penyakit ini di Indonesia. Seorang wanita hamil berusia 24 tahun dengan riwayat SLE, datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas yang semakin memburuk, pembengkakan di kaki, dan kelelahan. Sebelumnya pasien telah mengalami gejala ini sejak bulan kedua kehamilannya dan telah menjalani pengobatan untuk kondisinya. Setelah masuk rumah sakit, dia didiagnosis dengan krisis hipertensi berat, SLE aktif dengan manifestasi pada ginjal, sendi, dan kulit, gagal jantung kongestif, dan anemia. Pasien mendapatkan berbagai perawatan medis dan dipantau secara ketat di ICU. SLE adalah penyakit autoimun yang mempengaruhi berbagai organ dan jaringan. Kondidi tersebut dapat mempengaruhi kerja jantung dan adanya nefritis mengindikasikan peradangan pada ginjal. Kombinasi kondisi-kondisi ini membutuhkan manajemen dan pemantauan yang hati-hati sepanjang kehamilan untuk memastikan kesejahteraan ibu dan perkembangan janin, karena setiap kondisi memiliki implikasi unik terhadap hasil kehamilan dan kesehatan ibu. Pasien autoimun dengan kelainan jantung bawaan memerlukan terapi intensif yang baik sebab jika tidak diberikan tatalaksana dan pengawasan yang benar dapat menghasilkan prognosis yang buruk.
Seorang Pasien Perempuan Usia 24 Tahun P1A0 dengan SLE Prima Kusumandaru, Novierta; Fitriani R. W, Calcarina
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 2 No. 8 (2024): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v2i8.233

Abstract

SLE, atau lupus eritematosus sistemik, adalah penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi individu dari berbagai kelompok usia dan latar belakang etnis di Indonesia. Meskipun tidak ada data spesifik mengenai prevalensi SLE di Indonesia, penyakit ini lebih umum terjadi pada wanita usia subur. Faktor genetik, lingkungan, dan hormonal dapat memainkan peran dalam perkembangan SLE, namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap tentang karakteristik demografis penyakit ini di Indonesia. Seorang wanita hamil berusia 24 tahun dengan riwayat SLE, datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak napas yang semakin memburuk, pembengkakan di kaki, dan kelelahan. Sebelumnya pasien telah mengalami gejala ini sejak bulan kedua kehamilannya dan telah menjalani pengobatan untuk kondisinya. Setelah masuk rumah sakit, dia didiagnosis dengan krisis hipertensi berat, SLE aktif dengan manifestasi pada ginjal, sendi, dan kulit, gagal jantung kongestif, dan anemia. Pasien mendapatkan berbagai perawatan medis dan dipantau secara ketat di ICU. SLE adalah penyakit autoimun yang mempengaruhi berbagai organ dan jaringan. Kondidi tersebut dapat mempengaruhi kerja jantung dan adanya nefritis mengindikasikan peradangan pada ginjal. Kombinasi kondisi-kondisi ini membutuhkan manajemen dan pemantauan yang hati-hati sepanjang kehamilan untuk memastikan kesejahteraan ibu dan perkembangan janin, karena setiap kondisi memiliki implikasi unik terhadap hasil kehamilan dan kesehatan ibu. Pasien autoimun dengan kelainan jantung bawaan memerlukan terapi intensif yang baik sebab jika tidak diberikan tatalaksana dan pengawasan yang benar dapat menghasilkan prognosis yang buruk.