Industri pengolahan susu di Indonesia sangat penting untuk memastikan kecukupan gizi bagi penduduk. Namun, pasokan susu segar dalam negeri (SSDN) terus menurun, yang menyebabkan ketergantungan impor bahan baku susu semakin tinggi. Policy Paper ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi kebijakan guna memperkuat industri susu nasional, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan rantai pasokan. Kajian pustaka dan pengumpulan data dari sumber pemerintah, paparan seminar, dan penelitian sebelumnya dilakukan untuk menganalisis kondisi industri susu Indonesia saat ini. Policy Paper difokuskan pada rantai pasokan, produksi susu dalam negeri, dan dampak perubahan kebijakan terhadap industri. Hasil analisis menunjukkan bahwa kontribusi SSDN terhadap pasokan susu nasional turun dari 23% pada tahun 2017 menjadi 18% pada tahun 2023. Sementara itu, permintaan susu di Indonesia terus meningkat, didorong oleh pertumbuhan penduduk dan tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Policy Paper ini juga menemukan inefisiensi dalam rantai pasokan karena keterbatasan digitalisasi dan sifat industri peternakan sapi perah yang terfragmentasi, dengan sebagian besar peternak sapi perah hanya memiliki 2-3 sapi. Penurunan SSDN dan meningkatnya ketergantungan impor menyoroti perlunya strategi rantai pasokan yang komprehensif. Memperkuat kemitraan antara pengolah susu, koperasi, dan peternak sapi perah melalui digitalisasi dan kerangka kebijakan yang lebih baik dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi. Selain itu, peningkatan populasi sapi dan perbaikan praktik pertanian diperlukan untuk meningkatkan produksi susu lokal. Kesimpulan intervensi kebijakan yang difokuskan pada digitalisasi rantai pasokan, peningkatan sistem pendukung petani, dan peningkatan populasi sapi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan impor industri susu Indonesia dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.