Keberlanjutan tradisi menulis dari ulama Nusantara dapat kita temukan dengan adanya peninggalan kurun waktu lebih muda seperti karya ulama lokal Kediri. Penelitian ini mengkaji konsep penulisan sebagai bentuk pengajaran pengarang kitab dalam upaya memberikan kemudahan bagi para pelajar menguasai kaidah i’lal berbasis kajian peninggalan lokal dan kedudukannya dalam rangkaian peninggalan karya tulis ulama Nusantara dengan mengungkap genealogi dan keterkaitan antarliterasi yang relevan. Adapun metode penelitian ini adalah pendekatan historis kualitatif dengan memanfaatkan dokumen, observasi lapangan, dan wawancara. Dari kajian studi komparasi konsep pengajaran kaidah i’lal karya KH. Mundzir Nadzir dan KH. Maisur Sindi diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: 1) Dua karya tersebut merupakan peninggalan ulama Kediri abad ke-20 M, 2) Sistematika penulisan kitab Qawa’idul I’lal, muallif (pengarang) mencantumkan format penulisan berjumlah 19 kaidah i’lal beserta contohnya kemudian mencantumkan redaksi pembahasan dalam bentuk murad (pengertian) dalam kalimat tersendiri menggunakan aksara Jawa Pegon. Selanjutnya pada urutan berikutnya mencantumkan penjelasan i’lal semua lafadz yang menjadi contoh dalam kaidah i’lalnya sedangkan dalam kitab Nailul-Amal, muallif memiliki format penulisan redaksi berjumlah 35 kaidah i’lal beserta contohnya dalam bentuk mandzumah (syair) kemudian mencantumkan redaksi pembahasan dalam bentuk uraian singkat. Selanjutnya pada urutan berikutnya mencantumkan penjelasan i’lal satu lafadz yang menjadi contoh dalam kaidah i’lalnya sedangkan contoh lafadz yang lain diberikan tugas latihan kepada para murid untuk mengi’lal secara mandiri, 3) Secara genealogi kitab Nailul-Amal merupakan kitab khusus pembahasan kaidah i’lal berdasarkan pembahasan tashrifan kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyah, Jombang.