Arsyul, Asep Ahmad
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Mencari Kebebasan Dalam Tasawuf: Telaah Kritis Konsep Mahabbah Arsyul, Asep Ahmad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 4 No. 2 (2024): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v4i2.92

Abstract

In Sufi practice, mahabbah (divine love) is the essence of the spiritual relationship between humans and God. This paper critically examines how the concept of mahabbah relates to the idea of human freedom. Through a comprehensive analysis of classical and contemporary references, this research explores the contradictions that arise between mahabbah and human freedom. The study reveals that in the Sufi tradition, mahabbah is viewed as a noble spiritual state. Love has the ability to enhance one's journey towards Allah, soften hardened hearts, and lead individuals to obedience to Him. Allah is perceived as a Being of absolute perfection and beauty, so the results of this love are positive and contribute to the inner beauty and perfection of actions and behavior of the seeker. However, a critical question quickly arises: Does this surrender in divine love hinder individual freedom or is it actually a means to achieve true freedom? This paper aims to: (1) Identify the monotheistic aspects of mahabbah found in Islamic mysticism, (2) review the dialectical interaction between mahabbah and human freedom, and (3) provide a new perspective in gaining an understanding of spiritual freedom through the Sufi approach. The research reveals that in Sufism, achieving true freedom is actually found through devotion to divine love. This study is an important part of the broader discussion on the role of humans in Islamic spirituality, emphasizing the complex relationship between divine love, freedom, and the pinnacle of spiritual achievement in Sufism. Keywords: Mahabbah, Freedom, Sufism
Dimensi Spiritualisme Dan Humanisme Dalam Perlawanan Amir Abdelkader Hingga Gandhi Versus Kolonialisme Arsyul, Asep Ahmad; Walad, Sona Zainal; Subqi, Ahmad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 1 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i1.145

Abstract

Abstract Colonialism posed profound challenges to spiritual and cultural systems worldwide. Sufism, with its emphasis on peace, dialogue, and humanity, emerged as a counterforce to colonial aggression. This study examines the humanistic dimensions of Sufism through the perspectives of Amir Abdelkader and Mahatma Gandhi, both pivotal figures who embodied spiritual resistance against colonialism. The research highlights a critical gap in existing literature, which often isolates these figures without exploring their shared values and approaches. Using a comparative historical methodology, the study analyzes their paths toward mysticism, conceptualizations of the "Insan Kamil," and methods of resistance. Findings reveal that while Abdelkader and Gandhi hailed from different religious and cultural contexts, their Sufism-inspired visions fostered principles of tolerance, dialogue, and peace during turbulent colonial eras. This paper argues that Sufism's universal ethos bridges religious and cultural divides, offering a timeless model for humanistic resistance. By focusing on spiritual resilience and ethical leadership, the study contributes to broader discussions on intercultural dialogue and the role of mysticism in confronting oppression. This exploration establishes Sufism not only as a spiritual phenomenon but also as a transformative force in human history. Keywords: Sufism, Colonialism, Amir Abdelkader, Mahatma Gandhi, Humanism, Intercultural Dialogue Abstrak Kolonialisme menghadirkan tantangan mendalam bagi sistem spiritual dan budaya di seluruh dunia. Tasawuf, dengan penekanannya pada perdamaian, dialog, dan kemanusiaan, muncul sebagai kekuatan tandingan terhadap agresi kolonial. Penelitian ini mengkaji dimensi humanisme dalam tasawuf melalui perspektif Amir Abdelkader dan Mahatma Gandhi, dua tokoh penting yang mewujudkan perlawanan spiritual terhadap kolonialisme. Studi ini menyoroti kesenjangan kritis dalam literatur yang sering memisahkan kedua tokoh ini tanpa mengeksplorasi nilai dan pendekatan bersama mereka. Dengan menggunakan metodologi historis-komparatif, penelitian ini menganalisis perjalanan mereka menuju mistisisme, konsep "Insan Kamil," dan metode perlawanan mereka. Temuan menunjukkan bahwa meskipun Abdelkader dan Gandhi berasal dari konteks agama dan budaya yang berbeda, visi mereka yang terinspirasi tasawuf mengedepankan prinsip toleransi, dialog, dan perdamaian di era kolonial yang penuh gejolak. Artikel ini berargumen bahwa ethos universal tasawuf menjembatani perbedaan agama dan budaya, menawarkan model humanisme yang abadi untuk perlawanan. Dengan menekankan ketangguhan spiritual dan kepemimpinan etis, studi ini berkontribusi pada diskusi yang lebih luas tentang dialog antarbudaya dan peran mistisisme dalam menghadapi penindasan. Penelitian ini menegaskan tasawuf bukan hanya sebagai fenomena spiritual, tetapi juga sebagai kekuatan transformatif dalam sejarah manusia. Kata Kunci: Tasawuf, Kolonialisme, Amir Abdelkader, Mahatma Gandhi, Humanisme, Dialog Antarbudaya
Paradoks Identitas Kaum Salafis Arsyul, Asep Ahmad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.13

Abstract

Pola keberagamaan kaum salafisme sejatinya menampakkan iden-titas keagamaan yang heterogen. Karenanya, pembacaan atas sala-fisme yang dilakukan oleh tulisan ini mutlak perlu dibedah melalui pendekatan ideologis dus sosiologis, mengingat kompleksitas anasir yang dikandung oleh salafisme sendiri. Kesimpulan awalnya seder-hana: (1) bahwa salafisme sebagai sebuah organisme yang hidup berkorespondensi dengan perilaku adaptif terhadap semua kategori sosial yang terus mempengaruhinya, baik secara negatif maupun positif, dan (2) salafisme sebagai sebuah doktrin sangat dominan menegasikan selain dirinya dari rumah besar al Firqah an Najiyah dan/atau Ahl Sunnah wal Jama’ah. Alih-alih menganggapnya sebagai mitra kerja potensial, malah memandangnya sebagai musuh ideo-logis yang – bilamana perlu–, harus dialienasi dari realitas kehi-dupan sosial. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis pergeseran makna salafisme yang dalam perkembangannya selalu menuai perdebatan klaimitas yang tak pernah selesai [contentious label]. Kecuali itu, pergumulan antar identitas salafisme dengan dimensi kehidupan sosio-politik yang mengiringinya menjadi penting untuk dikaji oleh artikel ini. Sisi lain yang tak kalah penting untuk dianalisis adalah relasi intra/inter personal yang dibangun oleh setiap varian iden-titas salafisme, berkaitan dengan pandangannya terhadap kelompok in group atau out group. Maka pertanyaan riset dari risalah ini adalah: Pertama, apa dan ba-gaimana makna salafisme sesungguhnya? Kedua, bagaimana ideo-logi salafisme menerjemahkan identitasnya ke dalam segmentasi kehidupan sosio-politik secara umum? Dan bagaimana pula posisi lain [the others] di dalam pandangan dunia kaum salafisme? Semen-tara itu, metode dan pendekatan riset yang digunakan dalam risalah ini sepenuhnya bersifat library research dengan beberapa pendekat-an historis, analisis deskriptif dan fenomenologis.
Gerakan Sosial Tarekat Idrisiyyah; (Melacak Akar Moderasi dalam Konsep Tasawuf Sanusiyyah Arsyul, Asep Ahmad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.36

Abstract

Simplifikasi dan generalisasi atas sufisme sebagai momok keterbelakangan peradaban Islam merupakan upaya rasionalisasi yang nir-objektif. Karena itu, pembahasan ini menjadi penting untuk diteliti karena posisinya hendak mengklarifikasi problematika yang menyelimuti karakter dan hakekat tasawuf itu sendiri, melalui penelaahan mendalam terhadap tarekat Idrisiyyah. Atas dasar pernyataan itu, maka persoalan yang dikaji akan dibatasi oleh dua pertanyaan saja, yaitu; pertama, bagaimana sejarah perkembangan gerakan Sanusiyyah hingga ke tarekat Idrisiyyah?; dan kedua, bagaimana konsep moderasi perspektif tarekat Sanusiyyah? Dengan demikian, kajian ini akan mengandalkan jenis penelitian library research dengan alur pendekatan historis-sosiologis. Dalam konteks itu, asumsi yang melatari analisis wacana terhadap lokus terikat memunculkan satu pandangan umum sementara bahwa kemampuan tarekat Idrisiyyah sebagai sebuah gerakan sosial dalam proses mengadapsi tuntutan perubahan sosial yang begitu cepat didasarkan atas sistem keberagamaan terbuka yang meniscayakan seperangkat perilaku modern yang inklusif.