Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGOLAHAN MAKANAN DAN MINUMAN BERBAHAN SAYUR DAN BUAH UNTUK POKDARWIS DESA WISATA BATULAYANG Yuliantoro, Nonot; Nathalia, Theodosia Christhe; Kristiana, Yustisia; Saputra, Lauren; Lugiman, Kelly Emmanuela
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2578

Abstract

Desa Wisata Batulayang mendapatkan sertifikasi sebagai desa wisata berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang menunjukkan bahwa Desa Wisata Batulayang mampu menyelenggarakan aktivitas pariwisata yang lestari dan memberdayakan masyarakat setempat. Permasalahan yang dihadapi oleh Desa Wisata Batulayang sebagai desa wisata berkelanjutan adalah belum optimal dalam mengolah berbagai potensi lokal untuk dijadikan makanan dan minuman. Untuk mengatasi permasalahan ini, diadakan pelatihan cara mengolah potensi lokal seperti sayuran dan buah-buahan menjadi makanan dan minuman yang mengusung kearifan lokal. Metode yang dilakukan yaitu sosialisasi; memberikan pelatihan pengolahan bahan sayuran dan buah-buahan menjadi makanan dan minuman yang mengusung kearifan lokal; penerapan teknologi berupa penggunaan alat-alat yang digunakan untuk pembuatan produk; pendampingan proses pembuatan produk, dan evaluasi pelatihan dengan mengadakan pre-test dan post-test; dan keberlanjutan program dengan menyajikan makanan dan minuman bahan sayuran dan buah-buahan kepada wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Batulayang. Pelatihan diikuti oleh 27 peserta anggota Pokdarwis Desa Wisata Batu Layang. Seluruh peserta mengikuti kegiatan secara antusias dan kegiatan yang dilakukan dapat dirasakan manfaatnya bagi peserta. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan baru dalam bidang kuliner, tetapi juga didorong untuk terus berinovasi untuk meningkatkan daya tarik Desa Wisata Batu Layang.
PELATIHAN PEMBUATAN SABUN RAMAH LINGKUNGAN UNTUK DESA WISATA BATULAYANG C. Nathalia, Theodosia; Kristiana, Yustisia; Yuliantoro, Nonot; Lugiman, Kelly Emmanuela
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2616

Abstract

Salah satu desa wisata yang mendapatkan sertifikasi desa wisata berkelanjutan adalah Desa Wisata Batulayang yang terletak di kawasan Puncak Cisarua pada tahun 2020. Desa ini memiliki berbagai daya tarik wisata alam dan terus dikembangkan oleh masyarakatnya. Permasalahan yang dihadapi oleh Desa Wisata Batulayang adalah kualitas produk yang diberikan oleh Desa Wisata Batulayang belum sepenuhnya memenuhi konsep berkelanjutan yang diusung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Desa Wisata Batulayang memiliki homestay yang disewakan bagi wisatawan yang datang. Sebagai desa wisata berkelanjutan, amenities yang ada di homestay belum tergolong produk ramah lingkungan. Untuk mengatasi permasalah tersebut, kegiatan pelatihan pembuatan sabun ramah lingkungan dinilai mampu meningkatkan kesadaran akan penggunaan sumber daya yang efsien dan mendukung perlindungan lingkungan. Metode yang dilakukan pada pelatihan ini adalah sosialisasi mengenai sabun ramah lingkungan, pelatihan cara membuat produk sabun ramah lingkungan dan terakhir adalah pendampingan proses pembuatan produk dan evaluasi dengan cara test yang dilakukan sebelum pelatihan (pre-test) dan sesudah pelatihan (post-test). Pelatihan pembuatan produk sabun ramah lingkungan ini diikuti 27 peserta yang tergabung dalam Pokdarwisa Desa Wisata Batulayang yang memiliki homestay di area desa wisata. Peserta mengikuti kegiatan pelatihan selama 2 (dua) hari dan merasa mendapatkan manfaat dari pelatihan yang diberikan. Hal ini mendorong masyarakat desa untuk terus melakukan inovasi terhadap produk-produk ramah lingkungan yang berpedoman pada keberlanjutan pariwisata.