Cahyani, Isma Awal
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kritik Instrumentalistik; Narasi Penyadaran Ekologi Air sebagai Aset Kota pada Ragam Hias Batik Kontemporer Cahyani, Isma Awal
Kusa Lawa Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kritik Insrumentalistik; Narasi Penyadaran Ekologi Air sebagai Aset Kota Pada Ragam Hias Batik Komtemporer. Kritik instrumentalistik digunakan dalam menganalisis atau membedah visual, struktur, makna, tujuan hingga evaluasi penciptaan motif batik kontemporer yang diproduksi oleh pengrajin Rumah Batik Lokatmala; yaitu motif batik Parigi terinspirasi dari toponimi Kampung yang berada di Kota Sukabumi, bernama Parigi yang berarti sumber air. Kritik instrumentalistik beranggapan seni dapat memberikan suatu penyelesaian yang lebih penting dari pada seni itu sendiri. Ide yang diilustrasikan ditujukan untuk menstimulir emosi yang memang sudah ditujukan, meliputi nilai sosial, budaya hingga politis. Objek penelitian dibedah berdasarkan empat tahapan kritik; 1) Deskripsi karya dengan menemukan secara objektif apa yang tampak pada karya seni; 2) Analisis formal yang menelusuri karya seni berdasarkan struktur formal; 3) Interpretasi berupa penafsiran makna; 4) Evaluasi pada karya seni. Interaksi yang dihadirkan pengrajin melalui motif batik dengan masyarakat harus menimbulkan timbal balik dalam hal yang positif. Sehingga dalam tulisan kritik ini, peneliti menganalisis kepentingan sosial, kecakapan kerja, hubungan formal dan yang sejenis pada karya seni yang dihadirkan pengrajin. Hasilnya tidak hanya sekedar dinikmati visualnya atau dipahami informasinya, melainkan pengrajin juga sampai memastikan adanya tindak lanjut/perubahan yang muncul, baik dalam hal pola pikir, pola perilaku masyarakat hingga sistem regulasi atau kebijakan yang akan dihadirkan, khususnya dalam penyadaran ekologi air sebagai aset kehidupan di Kota Sukabumi. Kata Kunci: Kritik Intrumentalistik, Penyadaran Ekologi Air, Ragam Hias Batik Kontemporer Abstract Instrumentalistic Criticism; Narrative of Water Ecology Awareness as a City Asset in Contemporary Batik Decorative Varieties. Instrumentalistic criticism is used in analyzing or dissecting the visual, structure, meaning, purpose to evaluation of the creation of contemporary batik motifs produced by craftsmen of Rumah Batik Lokatmala; namely the Parigi batik motif inspired by the toponymy of the Village in Sukabumi City, named Parigi which means water source. Instrumentalistic criticism assumes that art can provide a solution that is more important than art itself. The illustrated idea is intended to stimulate emotions that have indeed been intended, including social, cultural to political values. The object of research is dissected based on four stages of criticism; 1) Description of the work by objectively finding what appears in the artwork; 2) Formal analysis that traces the artwork based on formal structure; 3) Interpretation in the form of interpretation of meaning; 4) Evaluation of the artwork. The interaction presented by craftsmen through batik motifs with the community must create reciprocity in a positive way. So in this critical writing, the researcher analyzes social interests, work skills, formal relationships and the like in the artwork presented by craftsmen. The results are not only enjoyed visually or understood information, but the craftsmen also ensure that there is follow-up/change that appears, both in terms of mindset, community behavior patterns and the regulatory system or policies that will be presented, especially in raising awareness of water ecology as a life asset in Sukabumi City. Keywords: Instrumentalistic Criticism, Water Ecology Awareness, Contemporary Batik Decorative Varieties
Estetika Lokal Pohon Pala (Myristica Fragrans Houtt) dalam Inovasi Batik Kontemporer Motif Palawan Cahyani, Isma Awal
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.13951

Abstract

ABSTRACTInnovation of batik motifs is a form of 'local wisdom' that is displayed. Its actualization when being able to study the historical background, expression, techniques to explore local wisdom in an effort to develop creativity in creating new symbols. A batik craftsman from Sukabumi founded the first batik production house, in 2014 the craftsman created a batik motif inspired by nutmeg which is a native Indonesian spice plant that grows well and is of high quality in Sukabumi. This article raises the topic of the creation of the Palawan batik motif carried out by craftsmen by raising the aesthetic potential of the nutmeg tree, the fuli/nutmeg seed has a unique line, then the craftsman processes the form into the visual Palawan motif. Craftsmen apply the concept of local aesthetics in the process of composing batik motif patterns/ compositions, including aesthetic terminology in Sundanese including shape, color, naming, expression to the composition pattern of the mandala/kacu in the Sundanese aesthetic concept. Uniqueness can be found in the application of an understanding in the creation of cultural objects. The factors that influence it also vary, ranging from the geographical location of a region, customs, beliefs and other objects of wisdom. The approach used is a qualitative descriptive case study. The study focuses on producing an exposition of the description and narrative of visual elements of contemporary Palawan motif batik and a description of local aesthetics (Sundanese) applied by craftsmen in the process of creating contemporary Palawan motif batik. The selection of nutmeg material objects as an idea for developing batik motifs in Sukabumi has gone through a process of in-depth study carried out by craftsmen. An artist (craftsman) must have a bias in creating a work of art, so that it produces a visual provocation in a positive way towards a certain thing or goal. ABSTRAKInovasi motif batik merupakan bentuk dari ’kearifan lokal’ yang ditampakan. Aktualisasinya ketika mampu mempelajari latar belakang sejarah, ekspresi, teknik untuk menggali kearifan lokal dalam upaya mengembangkan kreativitas dalam menciptakan simbol baru. Seorang pengrajin batik asal Sukabumi mendirikan rumah produksi batik pertama, pada tahun 2014 pengrajin menciptakan motif batik yang terinspirasi dari buah pala yang merupakan tanaman rempah asli Indonesia yang tumbuh dengan baik dan berkualitas di Sukabumi. Tulisan ini mengangkat topik mengenai penciptaan motif batik Palawan dilakukan oleh pengrajin dengan mengangkat potensi estetika dari pohon pala, bagian fuli/biji pala memiliki salur yang unik, kemudian pengrajin mengolah bentuk tersebut ke dalam visual motif Palawan. Pengrajin menerapkan konsep estetika lokal dalam proses menyusun pola/komposisi motif batik, diantaranya terdiri dari peristilahan estetika dalam bahasa Sunda meliputi bentuk, warna, penamaan, ekspresi hingga pola komposisi mandala/kacu dalam konsep estetika Sunda. Kekhasan dapat ditemukan pada penerapan sebuah pemahaman dalam penciptaan benda budaya. Faktor yang mempengaruhinya juga berbeda-beda, mulai dari keadaan letak geografis suatu wilayah, adat istiadat, kepercayaan dan objek kearifan lainnya. Pendekatan yang digunakan merupakan studi kasus yang bersifat deskriptif kualitatif. Studi difokuskan untuk menghasilkan paparan mengenai deskripsi dan narasi elemen visual batik kontemporer motif Palawan dan uraian estetika lokal (Sunda) yang diterapkan pengrajin dalam proses penciptaan batik kontemporer motif Palawan. Pemilihan objek material pala sebagai ide pengembangan motif batik di Sukabumi sudah melalui proses pendalaman yang dilakukan oleh pengrajin. Seorang pelaku seni (pengrajin) harus memiliki keberpihakan dalan menciptakan sebuah karya seni, sehingga menghasilkan sifat provokasi visual dalam hal positif terhadap suatu hal atau tujuan tertentu.