Kritik Insrumentalistik; Narasi Penyadaran Ekologi Air sebagai Aset Kota Pada Ragam Hias Batik Komtemporer. Kritik instrumentalistik digunakan dalam menganalisis atau membedah visual, struktur, makna, tujuan hingga evaluasi penciptaan motif batik kontemporer yang diproduksi oleh pengrajin Rumah Batik Lokatmala; yaitu motif batik Parigi terinspirasi dari toponimi Kampung yang berada di Kota Sukabumi, bernama Parigi yang berarti sumber air. Kritik instrumentalistik beranggapan seni dapat memberikan suatu penyelesaian yang lebih penting dari pada seni itu sendiri. Ide yang diilustrasikan ditujukan untuk menstimulir emosi yang memang sudah ditujukan, meliputi nilai sosial, budaya hingga politis. Objek penelitian dibedah berdasarkan empat tahapan kritik; 1) Deskripsi karya dengan menemukan secara objektif apa yang tampak pada karya seni; 2) Analisis formal yang menelusuri karya seni berdasarkan struktur formal; 3) Interpretasi berupa penafsiran makna; 4) Evaluasi pada karya seni. Interaksi yang dihadirkan pengrajin melalui motif batik dengan masyarakat harus menimbulkan timbal balik dalam hal yang positif. Sehingga dalam tulisan kritik ini, peneliti menganalisis kepentingan sosial, kecakapan kerja, hubungan formal dan yang sejenis pada karya seni yang dihadirkan pengrajin. Hasilnya tidak hanya sekedar dinikmati visualnya atau dipahami informasinya, melainkan pengrajin juga sampai memastikan adanya tindak lanjut/perubahan yang muncul, baik dalam hal pola pikir, pola perilaku masyarakat hingga sistem regulasi atau kebijakan yang akan dihadirkan, khususnya dalam penyadaran ekologi air sebagai aset kehidupan di Kota Sukabumi. Kata Kunci: Kritik Intrumentalistik, Penyadaran Ekologi Air, Ragam Hias Batik Kontemporer Abstract Instrumentalistic Criticism; Narrative of Water Ecology Awareness as a City Asset in Contemporary Batik Decorative Varieties. Instrumentalistic criticism is used in analyzing or dissecting the visual, structure, meaning, purpose to evaluation of the creation of contemporary batik motifs produced by craftsmen of Rumah Batik Lokatmala; namely the Parigi batik motif inspired by the toponymy of the Village in Sukabumi City, named Parigi which means water source. Instrumentalistic criticism assumes that art can provide a solution that is more important than art itself. The illustrated idea is intended to stimulate emotions that have indeed been intended, including social, cultural to political values. The object of research is dissected based on four stages of criticism; 1) Description of the work by objectively finding what appears in the artwork; 2) Formal analysis that traces the artwork based on formal structure; 3) Interpretation in the form of interpretation of meaning; 4) Evaluation of the artwork. The interaction presented by craftsmen through batik motifs with the community must create reciprocity in a positive way. So in this critical writing, the researcher analyzes social interests, work skills, formal relationships and the like in the artwork presented by craftsmen. The results are not only enjoyed visually or understood information, but the craftsmen also ensure that there is follow-up/change that appears, both in terms of mindset, community behavior patterns and the regulatory system or policies that will be presented, especially in raising awareness of water ecology as a life asset in Sukabumi City. Keywords: Instrumentalistic Criticism, Water Ecology Awareness, Contemporary Batik Decorative Varieties