Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peranan dan Fungsi Ekologis Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Ganesha di Kota Bandung Siti Nuraeni; Reza Raihandhany; Wiati Acika Gumati; Soni Saefulloh
Empiris: Journal of Progressive Science and Mathematics Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan suatu aspek penting dalam wilayah perkotaan. Area ini memiliki berbagai fungsi di antaranya fungsi ekologi, sosial-budaya, dan estetika. Salah satu contoh RTH dalam bentuk taman kota yang terdapat di Kota Bandung adalah Taman Ganesha. Taman ini terletak di Jalan Ganesha tepatnya di seberang Institut Teknologi Bandung (ITB) – Kampus Ganesha. Taman Ganesha berfungsi sebagai ruang publik yang dijadikan tempat untuk berkumpul bersama, beristirahat, mendukung aktivitas akademik bagi sivitas akademika ITB, dan berekreasi bagi masyarakat sekitar. Selain sebagai area publik yang berfungsi sebagai tempat rekreasi, taman juga memiliki fungsi ekologis bagi lingkungan melalui vegetasinya, yaitu pengatur iklim mikro, mengontrol erosi, dan menjadi habitat satwa. Penelitian ini bertujuan untuk menginventariasi keanekaragaman spesies pohon di Taman Ganesha dan memetakan lokasi pohonnya. Dalam penelitian ini dilakukan metode sensus seluruh pohon di Taman Ganesha, kemudian titik koordinat setiap pohon tersebut dengan Avenza Maps. Data koordinat kemudian diolah dengan menggunakan aplikasi ArcMap dan ditampilkankan menjadi Peta Sebaran Pohon di Taman Ganesha. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 158 individu pohon yang terdapat di Taman Ganesha, dengan rincian terdiri dari 39 spesies dan 24 famili. Filicium decipiens merupakan spesies pohon terbanyak yang ditemukan di Taman Ganesha, yakni sebanyak 25 individu, kemudian diikuti oleh Wodyetia bifurcata dan Elaeis guineensis dengan jumlah berturut-turut sebanyak 16 dan 11 individu. Fabaceae dan Moraceae merupakan famili pohon dengan jumlah anggota spesies terbanyak, berturut-turut sebanyak 6 dan 5 spesies.
HARMONI ALAM DAN KEARIFAN LOKAL: KONTRIBUSI KAMPUNG ADAT BANCEUY TERHADAP PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN MELALUI PELESTARIAN LINGKUNGAN Reza Raihandhany; Wika Harisa Putri; Amelia Majid; Chyntia Larasati; Fajar Rian Wulandari; Religiana Salsabila; Ni Luh Ayounik Mahasabha
Gunung Djati Conference Series Vol. 59 (2025): Prosiding Seminar Nasional Biologi (SEMABIO) ke-10 Tahun 2025
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Adat Banceuy di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Indonesia, dikenal karena kearifan lokalnya dengan memegang teguh adat istiadat dan kebudayaan yang terus diwariskan. Di samping itu, Masyarakat Adat Banceuy memiliki prinsip dalam menjaga keseimbangan alam dan keanekaragaman hayati dikarenakan mereka masih merasa sebagai bagian dari alam. Melalui praktik kearifan lokal serta pengetahuan ekologi tradisional, mereka mempertahankan berbagai jenis tumbuhan serta menjalankan sistem pertanian tradisional yang mendukung ketahanan iklim dalam menghadapi perubahan iklim. Dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan 15 (Ekosistem Daratan), kearifan lokal Masyarakat Adat Banceuy memiliki peran penting dalam menciptakan model pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pengetahuan tradisional Masyarakat Adat Banceuy dalam mengelola sumber daya alam dapat berkontribusi pada pencapaian TPB, memperkuat ketahanan iklim, dan melestarikan keanekaragaman hayati maupun budaya, serta menggali potensi replikasi praktik ini untuk konservasi ekosistem di wilayah lain. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, wawancara mendalam, dan observasi partisipatif, penelitian ini diharapkan dapat mengungkap sekaligus memberikan rekomendasi praktis untuk membangun model hubungan antara kearifan lokal dan strategi adaptasi perubahan iklim dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Hasil menunjukan bahwa berbagai kegiatan yang berkaitan dengan alam dan lingkungan di Kampung Adat Banceuy memiliki keterkaitan dengan target TPB 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim dan target TPB 15 yaitu Ekosistem Daratan. Inisiatif kegiatan yang dilaksanakan di hutan konservasi antara lain penanaman berbagai jenis pohon untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, praktik pertanian dengan skema agroforestri, pendidikan alam dan lingkungan, serta pembuatan rorak dan sumur resapan untuk pengelolaan air dan pencegahan erosi. Pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal di Kampung Adat Banceuy diharapkan dapat turut serta memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian TPB di Kabupaten Subang di dalam aspek lingkungan.