Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengintegrasikan pendekatan adaptive reuse dan semiotika dalam pelestarian arsitektur industri, dengan kasus pada Pabrik Gula Cepiring Kendal Jawa Tengah. Dengan Adaptive reuse memungkinkan bangunan bersejarah mendapatkan fungsi baru yang relevan tanpa mengorbankan nilai historisnya, sedangkan semiotika membantu mengungkap makna simbolis elemen-elemen arsitektur yang menjadi identitas budaya lokal. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode narrative review melalui analisis literatur yang relevan, dengan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kesenjangan pada pelestarian arsitektur industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen arsitektur seperti cerobong asap, struktur konstruksi baja, mesin uap industri dan tata ruang geometris serta elemen arsitektur dan bangunan hunian, memiliki nilai historis dan simbolis yang signifikan. Cerobong asap, dan mesin uap industri, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai elemen teknis kemajuan teknologi tetapi juga sebagai ikon visual yang mencerminkan sejarah kolonial dan identitas lokal. Integrasi adaptive reuse dan semiotika menghasilkan strategi pelestarian yang dapat mempertahankan nilai fisik dan simbolis bangunan, dengan memberikan fungsi baru yang relevan, seperti museum, pusat edukasi, atau agro wisata . Temuan ini memperkuat literatur yang ada, dan memperluas konsep pelestarian dengan menekankan pentingnya narasi budaya dalam pelestarian arsitektur. Kontribusi teoritis dalam penelitian ini memperkaya model pelestarian arsitektur industri dan memberikan nilai kemanfaatan praktis bagi pembuat kebijakan dan praktisi untuk mengelola warisan budaya secara berkelanjutan. Penelitian lanjutan sangat disarankan untuk mengeksplorasi implementasi empiris dari integrasi ini guna memperluas pemahaman tentang dampak sosial, ekonomi, dan budaya dalam pelestarian warisan arsitektur industri.