Sampah kain bersumber salah satunya dari industri pakaian merupakan penyumbang kerusakan lingkungan yang disebabkan pergeseran makna akibat majunya teknologi dan tren yang selalu up to date. Ciri dari fenomena ini mengacu pada fast fashion yang memiliki ciri khas siklus produk pendek, mengikuti tren, dan harga terjangkau yang menyebabkan hyper-consumption. Waste4Change menyebutkan bahwa Indonesia memproduksi 33 juta ton pakaian setiap tahunnya serta menghasilkan pula limbah tekstil yang terbuang dan mengotori lingkungan hampir satu juta ton. Kerusakan lingkungan seperti pencemaran air dan penyumbang emisi karbon terbesar di dunia, menggunakan banyak bahan kimia, serta eksploitasi buruh di negara berkembang. Fast fashion akan terus berkembang karena tren dan populasi manusia yang bertambah, Surabaya merupakan salah satu wilayah yang berpotensi terpapar fast fashion, maka dari itu diadakanlah kampanye edukasi Aksi Cegah Fast Fashion dan dipromosikan menggunakan ambient media dropbox pakaian. Menggunakan metode penelitian kualitatif (wawancara, focus group discussion, observasi) dan kuantitatif (kuesioner), kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif untuk menjabarkan data dan big idea yang dimanfaatkan guna mendesain dropbox pakaian. Tujuan ambient media dropbox pakaian ini untuk mempromosikan kegiatan kampanye Aksi Cegah Fast Fashion serta turut mengajak audiens aktif berpartisipasi dalam meminimalisir limbah pakaian.