Kegiatan ngopi menjadi budaya tersendiri bagi masyarakat penikmat kopi. Selain sebagai jembatan untuk bersosialisasi, ngopi juga menjadi pendamping bekerja karena khasiat kopi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mencegah kantuk. Adanya perkembangan teknologi, khususnya di kota metropolitan Surabaya, menyebabkan pergeseran budaya ngopi akibat munculnya kebutuhan masyarakat untuk berekspresi di media sosial, yang mana hal ini menuntut kedai kopi untuk memiliki suasana yang nyaman dan estetik sehingga dapat menarik lebih banyak peminat. Di sisi lain, banyak para pekerja seperti pegawai kantor yang mengalami kebosanan kerja membutuhkan suasana nyaman kedai kopi beserta minuman kopinya untuk meningkatkan produktivitas. Karena peminat kopi semakin banyak, maka tingkat konsumsi kopi menjadi semakin tinggi dan diperlukan peningkatan produksi kopi untuk mengimbangi hal ini. Pendekatan behaviorology akan menjawab permasalahan produktivitas dengan mensintesis perilaku pengguna ke dalam arsitektur. Selain itu, kedai kopi pada perancangan ini juga menjawab kebutuhan berekspresi dan peningkatan produksi kopi. Metode behavior mapping digunakan untuk merumuskan kriteria umum rancangan dari perilaku user yang kemudian akan disintesis menjadi konsep desain. Objek rancangan yang dihasilkan adalah One-stop Coffee & Work Area yang merupakan mixed-use building bertema kopi, mencakup coffee shop-like co-working space, coffee shop and roastery, dan coffee training center. Objek rancang ini diharapkan dapat mewadahi aktivitas penikmat dan pelaku kopi dalam satu area yang terintegrasi serta merespon permasalahan akibat pergeseran budaya ngopi terkait produktivitas kerja, berekspresi di media sosial, dan peningkatan produksi kopi.