Susandari, Hertina
Departemen Desain Produk Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Responsive Jewelry dengan Konsep Biomimikri untuk Urban Middle Class Millennials Ardila, Ayu; Susandari, Hertina; Krisbianto, Ari Dwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v12i3.85679

Abstract

Perhiasan yang dapat menghasilkan interaksi dengan penggunanya dan menambah experience pemakaian mulai berkembang, baik dari penambahan mekanisme kinetik dan penambahan fitur berteknologi. Dancing stone banyak diminati karena dapat menghasilkan kilauan cahaya dan fenomena perhiasan glow in the dark juga menjadi tren di kalangan millennials. Perhiasan responsif adalah benda untuk mempercantik diri (perhiasan) yang dapat memberikan respon atau interaksi terhadap penggunanya dengan mengadaptasi alam. Dengan tujuan memenuhi keinginan pasar, menjadi solusi dari permasalahan yang ada dan meningkatkan value perhiasan agar dapat bersaing dalam sektor global. Hal ini dikarenakan, perhiasan yang dapat memberikan respon belum berkembang, perhiasan emas masih tebatas pada bentuk dan estetika. Berdasarkan survey pribadi terhadap 40 responden, sebanyak 72,5% tertarik dengan perhiasan yang dapat memberikan respon, mayoritas memiliki keinginan akan perhiasan yang dapat bercahaya dan berubah warna. Selain itu, kristal alami dianggap memiliki hasil kilauan yang kurang maksimal atau bahkan cenderung buruk, sehingga diperlukan perangkat perhiasan yang memiliki kilauan atau cahaya yang lebih baik. Pendaran cahaya batuan pada perhiasan saat didisplay biasanya akan padam. Dan kecenderungan batu alam yang akan berlubang bawahnya seiring berjalannya waktu memungkinkan untuk dimasuki cahaya dan menghasilkan refleksi. Oleh karena itu, perhiasan responsif dibutuhkan untuk terus dikembangkan. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan mengadaptasi alam, disebut metode biomimikri. Pendekatan biomimikri yang digunakan adalah top-down, yaitu berangkat dari masalah desain, kemudian mengidentifikasi solusi pada alam, dan menerjemahkannya kedalam solusi desain. Permasalahan disini adalah bagaimana batuan dapat menghasilkan kilauan maksimal atau dengan bantuan cahaya, dan solusinya adalah mengadaptasi organisme di alam yang dapat menghasilkan cahaya, salah satunya adalah kunang - kunang. Implementasi biomimikri dilakukan pada tingkatan level biomimikri organisme atau disebut prinsip biomimikri inspirasi dari bentuk alam dengan mengadaptasi bentuk visual dari kunang – kunang dan cahaya yang dapat berkedip. Adaptasi dari kunang – kunang juga memungkinkan pengguna untuk mengingat kunang – kunang, diluar kepunahannya saat ini karena adanya pencemaran alam. 
Desain Adaptive and Interactive Lighting sebagai Sarana Pendukung Pelaku Work from Home Monica, Bella Refsy; Susandari, Hertina; Kurniawan, Arie
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v12i3.85824

Abstract

Sejak COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi, pembatasan aktivitas di luar rumah mulai diterapkan untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Salah satu upaya ini menyebabkan sebagian besar pekerja harus melakukan pekerjaannya dari rumah atau Work from Home (WFH). WFH menuntut sebagian besar pelakunya menggunakan satu ruangan untuk berbagai tujuan. Sedangkan dalam perencanaan sistem pencahayaan buatan sudah terdapat rekomendasi tingkat pencahayaan minimum untuk tiap-tiap ruangan berdasarkan fungsinya masing-masing. Pencahayaan yang baik di area kerja sangat penting untuk mengoptimalkan kinerja visual, kenyamanan visual, suasana, dan kenyamanan lingkungan kerja. Sebaliknya, pencahayaan yang tidak memadai di area kerja dapat mengakibatkan kelelahan mata diikuti dengan berkurangnya efisiensi kerja, mempercepat lelah, mengganggu konsentrasi, hingga keluhan sakit kepala di sekitar mata. Selain itu, luas dan setting tempat kerja yang digunakan juga menyebabkan kebutuhan akan pencahayaan yang berbeda pula. Penelitian dimulai dengan melakukan observasi fenomena dan peluang yang ada, pengumpulan data lapangan dan literatur, studi dan analisa, penentuan konsep desain, dan beberapa analisis lainnya hingga dihasilkan desain final untuk produk yang dirancang. Penelitian ini berfokus pada menciptakan sebuah desain lampu kerja yang dapat memfasilitasi kebutuhan pencahayaan para pelaku WFH dengan pengaturan pencahayaan yang dapat disesuaikan oleh pengguna berdasarkan aktivitas dan tipe pekerjaan yang dilakukan, serta lokasi dan kondisi tempat kerja yang digunakan.