Salah satu kecerdasan yang dimiliki manusia adalah adversity quotient, yang merujuk pada kemampuan individu untuk menghadapi kesulitan. Banyak kasus menunjukkan bahwa orang sering gagal melihat tantangan sebagai peluang. Dalam Islam, Allah SWT telah memperingatkan bahwa hidup akan termasuk ujian, seperti bencana, godaan, kesulitan, dan hukuman. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan adversity quotient dari perspektif pendidikan Islam untuk membangun ketahanan psikologis umat Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memahami konsep adversity quotient dalam kerangka pendidikan Islam; dan (2) memahami adversity quotient dalam kisah Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim dari perspektif pendidikan Islam. Penelitian ini adalah studi pustaka menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data untuk studi ini mencakup dokumen, buku, dan jurnal relevan dengan topik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) konsep adversity quotient dalam pendidikan Islam merujuk pada kemampuan individu untuk menghadapi kesulitan, mengamati, dan mengubahnya menjadi peluang. Dalam pendidikan Islam, kemampuan ini dikembangkan melalui penguatan pikiran dan hati, kesejahteraan spiritual dan fisik, serta etika. Ini diwujudkan dalam nilai-nilai pendidikan seperti kesabaran, ketahanan, ambisi, dan pengorbanan; dan (2) Adversity quotient dalam kisah Nabi Nuh mencakup enam nilai pendidikan: kesabaran, optimisme, ketekunan, ketahanan, kemurahan hati, jihad, dan pengorbanan. Sedangkan adversity quotient dalam kisah Nabi Ibrahim mencakup delapan nilai pendidikan: kepercayaan kepada Allah (tawakkal), kesabaran, rasa syukur, optimisme, ketekunan, kemurahan hati, jihad, pengorbanan, dan keteguhan (istiqamah).