Artikel ini berusaha menjelaskan bagaimana bentuk resepsi atau penerimaan terhadap Ayat Kursi dalam literatur keislaman yang kemudian memunculkan bentuk-bentuk respons seperti estetika, interpretasi hingga fungsionalitas. Hal ini penting untuk dikaji, di samping Ayat Kursi merupakan ayat populer dan banyak digunakan secara praktik, penelitian yang telah banyak dilakukan sebelumnya, selain berada di studi kasus, penelitian lain hanya terbatas pada salah satu sumber tertentu serta tidak menyertakan kronologis periwayatan. Penelitian ini merujuk pada kitab Khazinah al-Asrar Jalilah al-Adzkar sebagai sumber utama dan sebagai pendukung literatur lainnya, yaitu: Sahih al-Bukhari, Fadha'il al-Qur’an wa Ma Unzil min al-Qur’an bi Makkah wa Ma Anzal bi Madinah, Al-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an. Ini merupakan penelitian kualitatif dengan kajian pustaka yang bersifat deskriptif analitis. Selain itu, untuk membantu menganalisis data, penelitian ini juga menggunakan teori fungsi informatif dan performatif. Fungsi informatif akan memosisikan teks atau praktik sebagai informasi dalam struktur pernyataan, sementara performatif memosisikannya sebagai rujukan terhadap tindak laku. Dari pembacaan tersebut bisa dilihat pola transmisi dan transformasinya. Selanjutnya, persoalan yang diajukan adalah bagaimana pola transmisi dan transformasi yang berpotensi mengubah fungsi informatif menjadi performatif atas resepsi Ayat Kursi dalam Khazinah al-Asrar. Temuan dari penelitian ini yaitu: Ayat Kursi memiliki pergeseran nilai dari informatif menjadi performatif pada kitab Khazinah al-Asrar. Informasi mengenai transmisi Ayat Kursi terdapat dalam semua kitab yang dikaji antara lain: Shahih al-Bukhari, Fadhail al-Qur’an, al-Tibyan dan Khazinah al-Asrar. Semua kitab tersebut masing-masing memiliki sumber primer yakni hadis, khususnya riwayat Abu Hurairah. Sementara, transformasi resepsi Ayat Kursi cukup signifikan terdapat dalam Khazinah al-Asrar. Informasi praktik-praktik yang disertai tujuan tertentu menjadikan Ayat Kursi dalam Khazinah al-Asrar cenderung bersifat performatif.