This Author published in this journals
All Journal Agrikultura
Davina, Diva Fitria
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Daya Saing Usahatani Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl.) di Provinsi Lampung Davina, Diva Fitria; Abidin, Zainal; Kasymir, Eka
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.57112

Abstract

Cabai jawa (Piper retrofractum) merupakan tanaman asli Indonesia yang sering disebut juga cabai jamu, memiliki peran penting dalam sektor pertanian dan industri herbal. Tanaman ini terkenal karena buahnya yang memiliki rasa pedas dan khasiat kesehatan, serta digunakan sebagai bahan baku obat tradisional dan produk farmasi. Mengingat potensi ekonomi dan kesehatannya, penting untuk menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap pengembangan usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap input-output usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung. Metode penelitian yang digunakan ialah survei yang dilakukan di tiga desa berbeda yaitu Desa Sukoharjo III Barat, Kabupaten Pringsewu, Desa Bandar Rejo, Kabupaten Lampung Selatan, dan Desa Bandar Jaya Barat, Kabupaten Lampung Tengah. Responden ditetapkan menggunakan metode purposive sampling dengan total 18 petani cabai Jawa. Data penelitian diperoleh dari bulan September hingga November 2023. Metode analisis yang digunakan ialah metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung sudah berdaya saing karena memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif dengan nilai Private Cost Ratio sebesar 0,41 dan nilai Domestic Resources Cost Ratio sebesar 0,23. Kebijakan pemerintah yang ada berdampak negatif terhadap usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung karena menyebabkan petani membayar biaya input tradable lebih mahal dengan keuntungan yang diterima masih jauh lebih rendah daripada yang seharusnya.