This Author published in this journals
All Journal Jurnal Al-Ashlah
Padangsidimpuan, Anhar
STAI Maarif Jambi

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERSPEKTIF METAFISIKA GURU-GURU SAINS MUSLIM PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI DI PADANGSIDIMPUAN Padangsidimpuan, Anhar
Jurnal Al-Ashlah Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : STAI Maarif Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas asumsi-asumsi filosofis metafisik guru-guru Ilmu Pengetahuan Alam (Sains). Studi ini akan membuktikan apakah guru-guru sains yang nota bene Muslim memiliki wawasan metafisika integral-tauhidik atau justru sekular-dikhotomik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-naturalistik. Sumber data penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi, lalu dianalisis dengan metode komparasi konstan (grounded research).Studi ini menyimpulkan bahwa guru-guru sains Muslim pada Sekolah Menengah Atas memiliki wawasan metafisika yang bercorak sekular-dikhotomik. Kesimpulan ini didasarkan kepada empat poin penting gambaran pemahaman metafisika guru-guru sains. Pertama, wawasan tentang penciptaan. Metafisika penciptaan yang dipahami para guru hanya berhenti pada teori terjadinya alam semesta yang dikenal dengan teori big bang. Terjadinya ledakan dahsyat dimaksud  ¾ sebagaimana teorinya¾ mereka pahami sebagai reaksi alamiah belaka (law of nature).Kedua, wawasan tentang susunan atau keteraturan alam. Para guru tidak melihat bahwa  alam tersusun secara hirarkis mulai dari hirarki yang paling rendah hingga hirarki yang yang paling tinggi dan berakhir pada wajib al-wujud, Allah SWT. Demikian pula keberadaan Allah SWT tidak jelas dalam susunan kosmis yang dipahami guru.Ketiga, wawasan tentang kausalitas alam. Para guru tidak melihat hukum kausalitas lebih dari penomena alam biasa. Substansi kausalitas tidak dipahami para guru sebagai ayat (tanda-tanda) Tuhan di alam. Dengan demikian, kausalitas bagi para guru tidak mengintuisikan atau mengiilhamkan suatu perasaan dan pandangan yang bersifat mistis-intuitif (ilahiyah).Keempat, wawasan tentang teleologi alam. Para guru, tidak melihat bahwa aspek “kebertujuan” alam sebagai nilai filsafat pengetahuan yang perlu mendasari asumsi-asumsi filosofis guru tentang alam semesta. Pandangan dunia (world view) yang mereka miliki tentang teleologi alam tidak menyampaikan mereka kepada suatu pemahaman ilmiah yang melebihi batas-batas wawasan empirik-rasional. Begitupula sens ilmiah para guru dalam melihat aspek “kebertujuan” alam tidak sampai kepada sikap mengagungkan, menyucikan dan memuji Allah SWT. Kata Kunci: metafisika, sains, guru, SMA