Widyaningrum, Irene Agrivina
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menggabungkan Seni, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi: Eksplorasi HONF Terhadap Batas-batas Ekologi dan Ilmu Pengetahuan Widyaningrum, Irene Agrivina; Apriliawan, Gilang Wahyu
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.14193

Abstract

House of Natural Fiber (HONF), yang didirikan pada tahun 1999 di Yogyakarta, Indonesia, merupakan sebuah kolektif seni inovatif yang menggabungkan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk mengatasi masalah-masalah sosial, lingkungan, dan budaya yang mendesak. Proyek-proyek HONF, termasuk “Galactica V.2 Dharma Garden” dan “Immaculate Virtue,” mencontohkan pendekatan lintas-disiplin yang menggabungkan visualisasi data, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), seni lingkungan (environmental art), dan ilmu saraf (neuroscience). “Galactica V.1-2.1 Dharma Garden” menata ulang hubungan antara spiritualitas, ekosistem, dan keberlanjutan, dengan menggunakan seni lingkungan spekulatif dan kecerdasan buatan untuk memodelkan sistem ekologi. “Immaculate Virtue” menggunakan AI dan neurofeedback untuk merepresentasikan kemurnian spiritual, mengubah interaksi audiens menjadi pengalaman yang dinamis dan imersif. Kedua karya tersebut membahas masalah ekologi, menekankan keberlanjutan, dan mengeksplorasi bagaimana seni memengaruhi kognisi dan emosi. Proyek-proyek HONF menyoroti dedikasi mereka untuk memajukan kolaborasi interdisipliner, memberdayakan masyarakat, dan memperluas cakrawala praktik seni kontemporer. Combining Art, Science, And Technology: HONF's Exploration of Ecological and Scientific Frontiers ABSTRACT The House of Natural Fiber (HONF), established in 1999 in Yogyakarta, Indonesia, is an innovative art collective combining art, science, and technology to tackle pressing social, environmental, and cultural issues. HONF’s projects, including "Galactica V.2 Dharma Garden" and "Immaculate Virtue," exemplify a cross-disciplinary approach incorporating data visualization, artificial intelligence, environmental art, and neuroscience. "Galactica V.1-2.1 Dharma Garden" reimagines the connections between spirituality, ecosystems, and sustainability, using speculative eco-art and AI to model ecological systems. "Immaculate Virtue" employs AI and neurofeedback to represent spiritual purity, transforming audience interaction into dynamic, immersive experiences. Both works address ecological concerns, emphasize sustainability, and explore how art influences cognition and emotion. HONF's projects highlight their dedication to advancing interdisciplinary collaboration, empowering communities, and expanding the horizons of contemporary art practice.
Pembacaan terhadap Pameran Seni Rupa “Tempatan” oleh Empu Gampingan Widyaningrum, Irene Agrivina
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i2.12976

Abstract

Gender inequality not only results in social and economic disparities but also impacts environmental degradation, stemming from the imbalanced dominance of the patriarchal system that overlooks the role of women in society and nature. Rooted and established perspectives that place women and nature as objects have negative consequences for the environment. Empu Gampingan, a women's collective, is hosting an exhibition themed "Tempatan" at the National Gallery of Indonesia. This exhibition not only showcases aesthetically pleasing artworks but also depicts their stance towards the status quo, highlighting the various potentials and struggles of women for a better life, both individually and environmentally. The exhibition interprets "Siwur" as the philosophy of the exhibition, symbolizing women's resistance and strength in facing the social and cultural constraints that hinder them.Kesenjangan gender selain mengakibatkan ketimpangan dalam ranah sosial dan ekonomi juga berdampak pada kerusakan lingkungan yang merupakan akibat dari dominasi tidak seimbang dari sistem patriarki yang melupakan peran perempuan  di dalam masyarakat dan alam. Cara pandang yang telah mengakar dan menubuh yang menempatkan perempuan dan alam sebagai obyek membawa dampak negatif bagi lingkungan. Empu Gampingan sebagai sebuah kolektif perempuan mengusung sebuah pameran dengan tema “Tempatan” di Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini tidak hanya sekedar menampilkan karya seni estetis namun juga menggambarkan bagaimana sikap mereka terhadap status quo dan juga menampilkan berbagai potensi dan perjuangan perempuan untuk kehidupan baik individu maupun sosial maupun lingkungannya. Pameran ini mengangkat pemaknaan “Siwur” sebagai filosofi pameran yang berarti simbol perlawanan dan kekuatan perempuan dalam menghadapi batasan-batasan sosial dan budaya yang hambatan mereka.
EKSPLORASI PELESTARIAN PIGMEN ALAMI OLEH HONF MELALUI INTEGRASI SENI, SAINS, DAN TEKNOLOGI Widyaningrum, Irene Agrivina; Hutomo, Mohamad Haryo
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 17 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v17i1.7105

Abstract

Selama berabad-abad, pigmen telah memainkan peran penting dalam peradaban manusia, tertanam dalam ritual budaya, ekspresi artistik, dan kehidupan sehari-hari komunitas adat. Dalam banyak masyarakat tradisional, pigmen tidak hanya memiliki daya tarik visual, tetapi juga mengandung makna budaya yang mendalam, simbolisme, serta hubungan yang intim dengan alam. The Fifth Element, sebuah proyek riset artistik oleh HONF (House of Natural Fiber), mencoba memahami signifikansi budaya dari pigmen alami dengan mengintegrasikan seni, sains, dan teknologi, khususnya dalam kerangka adat, serta menelaah pelestarian pigmen sebagai aspek penting dalam menjaga warisan budaya. Penelitian ini mengkaji ulang metode tradisional dalam mencari, mempersiapkan, dan mengaplikasikan pigmen ke dalam bentuk modern untuk menciptakan pengalaman imersif melalui imaji auditori. Upaya ini bertujuan mengungkap bagaimana praktik para leluhur berkontribusi dalam melestarikan pengetahuan budaya dan hubungan ekologis. Dengan mengeksplorasi pendekatan budaya dan ilmiah terhadap pelestarian pigmen serta menyajikannya dalam bentuk audio, HONF menunjukkan potensi pigmen sebagai jembatan antara warisan budaya dan konservasi kontemporer, memperkaya pemahaman kita tentang warisan warna alami dalam sejarah manusia.