Kabupaten Banggai Laut, sebagai wilayah kepulauan, menghadapi tantangan penyediaan air minum layak di ibu kota kabupaten akibat keterbatasan air tawar, pertumbuhan penduduk, dan urbanisasi. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan SPAM yang adaptif terhadap karakteristik geografis dan sosial-ekonomi, termasuk keterjangkauan tarif sesuai daya beli masyarakat. Kajian mencakup (i) analisis keandalan air baku menggunakan model NRECA berbasis curah hujan dan evapotranspirasi Penman, (ii) proyeksi penduduk dengan lima metode statistik, (iii) estimasi kebutuhan air minum terpasang dan jam puncak, (iv) simulasi kinerja hidraulik jaringan perpipaan menggunakan EPANET 2.0, serta (v) evaluasi tarif dasar air dengan prinsip FCR mengacu pada Permendagri No. 71/2016 dan 21/2020. Empat skenario pengembangan dianalisis melalui pendekatan MCDA dengan pembobotan kriteria menggunakan AHP dan pemeringkatan alternatif menggunakan TOPSIS di Python (Google Colab). Hasil AHP menunjukkan bobot tertinggi adalah debit andalan (0,363), diikuti oleh sistem jaringan (0,251), tarif (0,232), dan kebutuhan air (0,154), dengan rasio konsistensi 0,012 (konsisten). Perhitungan TOPSIS menempatkan alternatif A1 sebagai pilihan terbaik (Ci = 0,568) karena paling mendekati solusi ideal dalam keandalan suplai air baku (Sungai Mampaliasan), efisiensi sistem jaringan (Pompanisasi), dan keterjangkauan tarif. Hasil penelitian ini mendukung perencanaan SPAM bertahap berbasis keandalan sumber dan efisiensi operasional di wilayah kepulauan serta diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan bagi perencanaan SPAM yang berkelanjutan, efisien, dan inklusif di wilayah kepulauan.