SMAN 4 Wajo berada di tengah-tengah masyarakat Maningpajo, yang penduduk aslinya terdiri dari dua keyakinan yang sangat berpengaruh yaitu ummat Islam dan ummat Pallautang, hal ini dapat memicu terjadinya pemahaman yang ekstri dan sikap intoleransi, seperti perkelahian antar pelajar yang akhirnya melibatkan pergerakan massa dari dua keyakinan yaitu umat Islam dan ummat Pallautan. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah yang pertama untuk mengetahui langkah-langkah penerapan moderasi beragama di SMAN 4 Wajo, yang kedua untuk mengetahui cara-cara melestarikan nilai-nilai kearifan lokal budaya sipakatau, sipakalebbi dan sipakaingge di SMAN 4 Wajo, yang ketiga untuk mengetahui apakah kearifan lokal budaya sipakatau sipakalebbi dan sipakaingge dapat membina moderasi beragama di SMAN 4 wajo. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif fenomenologi yang data-datanya diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Data ditemukan melalui data tulisan, lisan dan informan serta observasi dari perilaku-perilaku yang diamati. Hasil penelitian menunjjukkan bahwa moderasi beragama di SMAN 4 Wajo dapat terjalin dengan baik dengan menanamkan nilai-nilai agama dan budaya sejak dini kepada peseta didik sehingga tertanam dalam kepribadian . Penerapkan kearifan lokal budaya sipakatau, sipakalebbi dan sipakainge diterapkan di SMAN 4 Wajo melalui kegiatan pembiasaan beragama dan pembelajaran mata pelajaran Mulok Bahasa Daerah . Budaya sipakatau, sipakalebbi dan sipakainge dapat menciptakan kerukunan antar ummat beragama di SMAN 4 Wajo dibuktikan dengan meningkatnya toleransi antar ummat beragama, berkurangnya gesekan-gesekan sosial yang mengakibatkan tauran pelajar antar ummat beragama, dan tingginya kepekaan sosial sehingga bisa saling memahami perbedaan