Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kemampuan Tajwid Guru-Guru TPQ / MDTA Bersertifikasi di Kecamatan Payakumbuh Utara Zendra, Zendra Rosada Naska; Rahman, Yenni; Rizqi, Muhammad; Irianto, Marwit
Jurnal Ilmiah Al-Furqan: Al-qur'an Bahasa dan Seni Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah Al-Furqan: Al-qur'an Bahasa dan Seni
Publisher : STAI Darul Quran Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69880/alfurqan.v10i2.74

Abstract

Abstrak Pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Payakumbuh, Bidang Kesra terhadap guru-guru TPQ / MDTA yang ada di kota Payakumbuh. Sebagai kota kecil yang sangat strategis dan penghubung antar provinsi, perlahan namun pasti Payakumbuh menjadi kampung Al-Qur’an ini dibuktikan dengan banyaknya muncul sekolah-sekolah Islam, pondok pesantren, pondok tahfizh dan rumah Qur’an. Untuk mengimbangi dan mengikuti fenomena diatas, agar TPQ dan MDTA tidak kehilangan santri dan kalah bersaing,maka Pemerintah Kota Payakumbuh Bagian Kesra mengadakan pembinaan dan sekaligus memberikan sertifikasi bagi guru-guruTPQ dan MDTA yang ada di kota Payakumbuh. Yang mana selanjutnya guru-guru yang lulus mendapatkan sertifikat A, B atau C dengan jumlah 25 orang, diiringi dengan pemberian insentif.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain deskriptif kualitatif yang merupakan penelitian yang menggambarkan isi data yang ada yaitu mendeskripsikan datayang dikumpulkan berupa kata-kata,gambar, dan bukan angka. Dalam penelitian ini dipiilih guru-guru TPQ dan MDTA bersertifikasi di kecamatan Payakumbuh Utara yang berjumlah 25 orang dengan rincian sertifikasi A satu orang, sertifikasi B sembilan orang dan sertifikasi C lima belas orang.Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang objeknya mengenai gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kelompok masyarakat.Hasil dari penelitian ini adalah di temukan kemampuan guru-guru TPQ/MDTA Bersertifikat berdasarkan kriteria peenilaian yakni: penilaian sangat bagus sebanyak 19 orang responden, kriteria bagus 5 orang responden, sedangkan kategori dengan nilai cukup terdiri dari 1 orang responden. Adapun responden yang mengalami kesalahan makharijul huruf terdiri dari : ب (1 orang), ت (1 orang), ث (3 orang), ذ (2 orang), د (3 orang), ز (2 orang), س (2 orang), ش (2 orang), ص ( 2 orang), ض ( 2 orang), ط ( 2 orang), ظ (3 orang), ق (1 orang), ك (1 orang), ه (1 orang). Berkenaan hukum Nun Sukun dan Tanwin terdapat kesalahan idgham 3 orang, iqlab 1 orang, ikhfa 4 orang.
Kemampuan Tajwid Guru-Guru TPQ / MDTA Bersertifikasi di Kecamatan Payakumbuh Utara Zendra, Zendra Rosada Naska; Rahman, Yenni; Rizqi, Muhammad; Irianto, Marwit
Jurnal Ilmiah Al-Furqan: Al-qur'an Bahasa dan Seni Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah Al-Furqan: Al-qur'an Bahasa dan Seni
Publisher : Institut Darul Quran Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69880/alfurqan.v10i2.74

Abstract

Abstrak Pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Payakumbuh, Bidang Kesra terhadap guru-guru TPQ / MDTA yang ada di kota Payakumbuh. Sebagai kota kecil yang sangat strategis dan penghubung antar provinsi, perlahan namun pasti Payakumbuh menjadi kampung Al-Qur’an ini dibuktikan dengan banyaknya muncul sekolah-sekolah Islam, pondok pesantren, pondok tahfizh dan rumah Qur’an. Untuk mengimbangi dan mengikuti fenomena diatas, agar TPQ dan MDTA tidak kehilangan santri dan kalah bersaing,maka Pemerintah Kota Payakumbuh Bagian Kesra mengadakan pembinaan dan sekaligus memberikan sertifikasi bagi guru-guruTPQ dan MDTA yang ada di kota Payakumbuh. Yang mana selanjutnya guru-guru yang lulus mendapatkan sertifikat A, B atau C dengan jumlah 25 orang, diiringi dengan pemberian insentif.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain deskriptif kualitatif yang merupakan penelitian yang menggambarkan isi data yang ada yaitu mendeskripsikan datayang dikumpulkan berupa kata-kata,gambar, dan bukan angka. Dalam penelitian ini dipiilih guru-guru TPQ dan MDTA bersertifikasi di kecamatan Payakumbuh Utara yang berjumlah 25 orang dengan rincian sertifikasi A satu orang, sertifikasi B sembilan orang dan sertifikasi C lima belas orang.Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang objeknya mengenai gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kelompok masyarakat.Hasil dari penelitian ini adalah di temukan kemampuan guru-guru TPQ/MDTA Bersertifikat berdasarkan kriteria peenilaian yakni: penilaian sangat bagus sebanyak 19 orang responden, kriteria bagus 5 orang responden, sedangkan kategori dengan nilai cukup terdiri dari 1 orang responden. Adapun responden yang mengalami kesalahan makharijul huruf terdiri dari : ب (1 orang), ت (1 orang), ث (3 orang), ذ (2 orang), د (3 orang), ز (2 orang), س (2 orang), ش (2 orang), ص ( 2 orang), ض ( 2 orang), ط ( 2 orang), ظ (3 orang), ق (1 orang), ك (1 orang), ه (1 orang). Berkenaan hukum Nun Sukun dan Tanwin terdapat kesalahan idgham 3 orang, iqlab 1 orang, ikhfa 4 orang.
Negotiations on Mashlahah and Customary Prohibitions on Praying for Dead Unpraying in Nagari Andaleh, Lima Puluh Kota Regency Irianto, Marwit
Al Muhkam: Journal of Islamic Law and Jurisprudence Vol. 2 No. 1 (2026): Al Muhkam: Journal of Islamic Law and Jurisprudence
Publisher : KIPS Institute Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65980/almuhkam.v2i1.7

Abstract

In the Nagari Andaleh community, Luak District, Lima Puluh Kota Regency, there is a rule that prohibits people from praying for the bodies of those who never prayed. This customary rule certainly raises widespread questions among the community about its applicability in general and specific contexts. Therefore, the purpose of this study is to describe the customary prohibition against praying for the bodies of people who did not pray, along with its limitations, and to examine the mashlahah (benefits) behind this customary rule. The research method used in this article is field research, in which primary research data was obtained directly from the local community through direct interviews. Secondary data was sourced from books, journals, and so on. The results of the study show that the customary rules that apply in Nagari Andaleh to people who do not pray when they die are that their bodies are not prayed over in congregation at the mosque and are not led by local scholars or authorities, but are still prayed over in a limited manner by their immediate family. From the perspective of mashlahah, this prohibition is in accordance with mashlahah mu'tabarah (mashlahah supported by nash) with the aim of protecting and preserving religion (hifzh al-din) at the dharuriyah (significant) level.