Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN SEMIOTIK PUISI JANGAN MENANGIS, IBU PERTIWI KARYA SISKA PUSPITA DEWI Marminingsih, Wahyuni; Kembaren, Johanes Suranta; Inayah, Lela Lailatul
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 4 No. 2 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v4i2.6913

Abstract

Puisi adalah bentuk ekspresi diri yang menggambarkan keresahan, imajinasi, kritik, pemikiran, pengalaman, kesenangan, maupun nasehat seseorang. Puisi Siska yang berjudul Jangan Menangis, Ibu Pertiwi, ia tulis pada tahun 2022 saat perhelatan Pagelaran Semarak Sumpah Pemuda pada tanggal 31 Oktober 2022 di The Acacia Hotel & Resort, Jakarta. Untuk mengetahui makna tersirat yang disampaikan oleh Siska Puspita Dewi dalam puisi tersebut perlu adanya penelitian, sehingga dilakukanlah analisis kajian semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bacaan hermeneutk dengan kajian semiotik Pierce yang terdiri atas ikon, indeks, dan simbol. Metode kualitatif dan pendekatan analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Sumber data didapatkan dari puisi “Jangan Menangis, Ibu Pertiwi” karya Siska Puspita Dewi. Hasil penelitian ini ditemukan adanya 5 ikon: ibu pertiwi, benalu, pemilik palu, bahasa persatuan, bahasa Indonesia, serta tongkat estafet perjuangan pahlawan. 3 indeks: keadilan yang merata, kecerdasan anak bangsa, dan menggenang darah. 5 simbol: pemilik palu yang sudah tiada lagi memiliki malu, ponsel, mimpi para pejuang dan pemimpin terdahulu, menangis Ibu Pertiwi, dan Buih dan tekad untuk negeri. Poetry is a form of self-expression that describes one's anxiety, imagination, criticism, thoughts, experiences, pleasures, and advice. Siska's poem entitled Don't Cry, Mother Earth, she wrote in 2022 during the Youth Pledge Lively Show on October 31, 2022 at The Acacia Hotel & Resort, Jakarta. To find out the implied meaning conveyed by Siska Puspita Dewi in the poem, research is needed, so a semiotic study analysis is carried out. This study aims to describe hermeneutk reading with Pierce's semiotic study consisting of icons, indexes, and symbols. Qualitative methods and descriptive analysis approaches were used in this study. The source of the data was obtained from the poem "Don't Cry, Mother Earth" by Siska Puspita Dewi. The results of this study found 5 icons: ibu pertiwi, benalu, pemilik palu, bahasa persatuan, bahasa Indonesia, and tongkat estafet perjuangan pahlawan. 3 indices: keadilan yang merata, kecerdasan anak bangsa, and menggenang darah. 5 symbols: pemilik palu yang sudah tiada lagi memiliki malu, ponsel, mimpi para pejuang dan pemimpin terdahulu, menangis Ibu Pertiwi, and Buih dan tekad untuk negeri.
KAJIAN SEMIOTIK PUISI JANGAN MENANGIS, IBU PERTIWI KARYA SISKA PUSPITA DEWI Marminingsih, Wahyuni; Kembaren, Johanes Suranta; Inayah, Lela Lailatul
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 4 No. 2 (2024): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v4i2.6913

Abstract

Puisi adalah bentuk ekspresi diri yang menggambarkan keresahan, imajinasi, kritik, pemikiran, pengalaman, kesenangan, maupun nasehat seseorang. Puisi Siska yang berjudul Jangan Menangis, Ibu Pertiwi, ia tulis pada tahun 2022 saat perhelatan Pagelaran Semarak Sumpah Pemuda pada tanggal 31 Oktober 2022 di The Acacia Hotel & Resort, Jakarta. Untuk mengetahui makna tersirat yang disampaikan oleh Siska Puspita Dewi dalam puisi tersebut perlu adanya penelitian, sehingga dilakukanlah analisis kajian semiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bacaan hermeneutk dengan kajian semiotik Pierce yang terdiri atas ikon, indeks, dan simbol. Metode kualitatif dan pendekatan analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Sumber data didapatkan dari puisi “Jangan Menangis, Ibu Pertiwi” karya Siska Puspita Dewi. Hasil penelitian ini ditemukan adanya 5 ikon: ibu pertiwi, benalu, pemilik palu, bahasa persatuan, bahasa Indonesia, serta tongkat estafet perjuangan pahlawan. 3 indeks: keadilan yang merata, kecerdasan anak bangsa, dan menggenang darah. 5 simbol: pemilik palu yang sudah tiada lagi memiliki malu, ponsel, mimpi para pejuang dan pemimpin terdahulu, menangis Ibu Pertiwi, dan Buih dan tekad untuk negeri. Poetry is a form of self-expression that describes one's anxiety, imagination, criticism, thoughts, experiences, pleasures, and advice. Siska's poem entitled Don't Cry, Mother Earth, she wrote in 2022 during the Youth Pledge Lively Show on October 31, 2022 at The Acacia Hotel & Resort, Jakarta. To find out the implied meaning conveyed by Siska Puspita Dewi in the poem, research is needed, so a semiotic study analysis is carried out. This study aims to describe hermeneutk reading with Pierce's semiotic study consisting of icons, indexes, and symbols. Qualitative methods and descriptive analysis approaches were used in this study. The source of the data was obtained from the poem "Don't Cry, Mother Earth" by Siska Puspita Dewi. The results of this study found 5 icons: ibu pertiwi, benalu, pemilik palu, bahasa persatuan, bahasa Indonesia, and tongkat estafet perjuangan pahlawan. 3 indices: keadilan yang merata, kecerdasan anak bangsa, and menggenang darah. 5 symbols: pemilik palu yang sudah tiada lagi memiliki malu, ponsel, mimpi para pejuang dan pemimpin terdahulu, menangis Ibu Pertiwi, and Buih dan tekad untuk negeri.