Muh. Mawangir
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fenomena Toxic Masculinity  di Masyarakat dari Persepsi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Ayuni Indah Syahfitri; Muh. Mawangir
Indonesian Journal of Behavioral Studies Vol. 4 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Behavioral Studies
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Sumatra Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/ijobs.v4i2.24673

Abstract

Toxic masculinity adalah fenomena sosial turun-temurun yang diberikan pada laki-laki dimana laki-laki dituntut untuk menghindari dan tidak melakukan hal-hal yang dianggap bisa mengurangi maskulinitasnya sebagai seorang laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan dan faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya toxic masculinity pada laki-laki. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah sembilan orang laki-laki yang berstatus sebagai mahasiswa. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic masculinity dapat ‘memaksa’ laki-laki untuk mementingkan norma maskulinitas, dan laki-laki yang tidak memenuhi standar tersebut sering merasa tidak nyaman. Fenomena toxic masculinity disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup kurangnya edukasi mengenai toxic masculinity dan ketidaksetaraan gender di dalam keluarga, sementara faktor eksternal melibatkan lingkungan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi lama. Kombinasi dari kedua faktor ini dapat menyebabkan perubahan sikap dan karakter individu. Kombinasi dari kedua faktor ini dapat menyebabkan perubahan sikap dan karakter individu. Toxic masculinity, yang sering dianggap sepele, dapat menimbulkan dampak buruk yang signifikan, seperti perbedaan yang mencolok antara laki-laki dan perempuan serta pembatasan dalam mengekspresikan diri secara autentik. Hal ini menunjukkan bahwa toxic masculinity bukan hanya isu yang seharusnya diabaikan, melainkan sesuatu yang harus diatasi agar individu dapat berkembang tanpa tertekan oleh norma-norma maskulin yang kaku. .