p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Flourishing Journal
Syavitri, Risya Meidhina
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Hubungan Parasosial Pembaca Dewasa Awal dengan Karakter Fiksi dalam Webtoon Wiweka, Charisma Septian; Syavitri, Risya Meidhina; Samodra , Wisnu
Flourishing Journal Vol. 4 No. 9 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i92024p386-411

Abstract

Early adults with age range of 18-40 y.o., are included in Erikson's psychosocial stage with the task of intimacy versus isolation. This means individuals must be able to build intimate relationships or become socially isolated. Intimate relationships formed may take a different form than usual. One is the way individuals form types of parasocial relationships, with fictional characters in some cases. On the other hand, there is one media that is developing rapidly and is famous for the nature and depiction of its fictional characters, namely webtoon. Departing from this phenomenon, this research aims to explore the description of the parasocial relationships of early adult readers with fictional characters in webtoons. The method used is a qualitative research method with a phenomenological approach model. Data collection was carried out using semi-structured interviews and data was analyzed using thematic analysis techniques. Based on the analysis of data that has been collected, results show that parasocial relationships of early adult readers with fictional characters in webtoons are manifested in two different types: romantic and non-romantic parasocial relationships. These parasocial relationships are also formed in affective, behavioral, cognitive and decisional manifestations, with characteristics of one-way relationship and having parasocial paradox. AbstrakIndividu dewasa awal, dengan rentang usia 18-40 tahun, termasuk dalam tahap psikososial oleh Erikson sebagai tahap perkembangan dengan tugas intimacy versus isolation. Hal ini berarti individu harus bisa membangun hubungan intim atau menjadi terisolasi secara sosial. Seiring berubahnya zaman, hubungan intim yang dibentuk dalam masa dewasa awal ini bisa jadi berbentuk berbeda daripada umumnya. Salah satunya adalah cara individu dewasa awal membentuk jenis hubungan parasosial, dengan karakter fiksi pada beberapa kasus. Di sisi lain, pada dekade terakhir terdapat satu media yang sedang berkembang pesat dan terkenal dengan sifat dan penggambaran karakter fiksinya, yaitu media webtoon. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi gambaran hubungan parasosial pembaca dewasa awal dengan karakter fiksi di dalam webtoon. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan model pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi-terstruktur dan data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Berdasarkan analisis data yang sudah dikumpulkan, didapatkan hasil bahwa hubungan parasosial pembaca dewasa awal dengan karakter fiksi di webtoon terwujud dalam dua jenis hubungan yang berbeda, yaitu hubungan parasosial romantis dan non-romantis. Hubungan parasosial tersebut juga terbentuk dalam manifestasi afeksi, perilaku, kognitif, serta desisional, dengan karakteristik hubungan satu arah dan memiliki paradoks parasosial.
Akun Alter: Cara Baru Presentasi Diri di Media Sosial Syavitri, Risya Meidhina; Noorrizki, Rakhmaditya Dewi
Flourishing Journal Vol. 2 No. 6 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i62022p440-446

Abstract

Abstract: In the modern era, the development of Science and technology brought many changes in people's lives. Internet and social media which is a product of the development of information and communication technology emerged to facilitate interaction between people. In interacting, humans will form a self-presentation to be accepted by society, both naturally and artificially. Today, social media offers a variety of convenience for its users to form a self-presentation as desired by operating more than one account in the same device. This is what then causes the emergence of anonymous accounts without identity or commonly known as alter accounts. This study aims to identify the form of self-presentation strategies such as what the alter account users have. This study was conducted using the literature review method. The results of the literature review revealed that alter account users use self-presentation strategies ingratiation, intimidation, and self-promotion. Most alter account owners avoid disclosing information that could indicate identity, but dare to express personal opinions that may be controversial. Keywords: alter accounts; self presentation; social media Abstrak: Di era modern, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa banyak perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Internet dan media sosial yang merupakan produk dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi muncul untuk mempermudah interaksi antar manusia. Dalam berinteraksi, manusia akan membentuk presentasi diri untuk bisa diterima masyarakat, baik secara alami maupun dibuat-buat. Dewasa ini, media sosial menawarkan beragam kemudahan bagi para penggunanya untuk membentuk presentasi diri sesuai keinginan dengan mengoperasikan lebih dari satu akun dalam perangkat yang sama. Hal inilah yang kemudian menyebabkan munculnya akun-akun anonim tanpa identitas atau yang biasa dikenal dengan istilah akun alter. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan bentuk strategi presentasi diri seperti apa yang dimiliki para pengguna akun alter. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode review literatur. Hasil dari kajian literatur mengungkapkan bahwa pengguna-pengguna akun alter menggunakan strategi presentasi diri ingratiation, intimidation, dan self-promotion. Kebanyakan pemilik akun alter menghindari mengemukakan informasi yang bisa menunjukkan identitas, namun berani mengemukakan pendapat personal yang mungkin bersifat kontroversial. Kata kunci: akun alter; presentasi diri; media sosial