p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal e-CliniC
Rompis, Johnny L.
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Faktor Risiko Terjadinya Enterokolitis Nekrotikan pada Neonatus Palinggi, Eoudia S.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Rompis, Johnny L.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.59445

Abstract

Abstract: Necrotizing enterocolitis is inflammation of babies' digestive tract and the main cause of morbidity and mortality of premature neonates in the NICU. The exact etiology of necrotizing enterocolitis is not known so far. This study aimed to determine prematurity, formula feeding, sepsis, anemia, congenital heart disease and preeclampsia/eclampsia in mothers as risk factors for necrotizing enterocolitis in neonates and other risk factors that influence the incidence of necrotizing enterocolitis. This was a quantitative and analytical study with a cross sectional design. Sampling techniques were total sampling of necrotizing enterocolitis cases (38 patients) and executive sampling for control cases (38 patients) admitted to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado using data of medical records. The results of the distribution table analysis and chi-square test showed that the risk factors analyzed that had p<0.05, namely prematurity (p<0.001), and sepsis (p<0.001). Other variables did not have significant relationships with the incidence of necrotizing enterocolitis (p>0.05), as follows: formula milk consumption (p>0.387), anemia (p>0.234), congenital heart disease (p>0.556), and mothers with preeclampsia/ eclampsia (p>0.556). In conclusion, prematurity and sepsis are risk factors for necrotizing enterocolitis in neonates at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital, Manado. Keywords: risk factors; necrotizing enterocolitis; neonates   Abstrak: Enterokolitis nekrotikan (EKN) merupakan peradangan pada usus saluran cerna bayi yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus prematur di NICU. Tingkat kematian EKN makin tinggi pada bayi yang lebih kecil. Sampai saat ini etiologi yang jelas mengenai EKN belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prematur, pemberian susu formula, sepsis, anemia, penyakit jantung bawaan, dan preeklamsi/eklamsi pada ibu sebagai faktor risiko terjadinya EKN pada neonatus, dan mengetahui faktor risiko lain yang memengaruhi kejadian EKN. Jenis penelitian ialah analitik kuantitatif dengan desain potong lintang. Teknik sampling penelitian ialah total sampling pada kasus EKN 38 pasien  dan executive sampling pada kontrol EKN 38 pasien yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado melalui sumber data rekam medis. Hasil analisis tabel distribusi dan uji chi-square menunjukkan bahwa faktor risiko yang dianalisis mempunyai p<0,05 ialah faktor prematur (p<0,001), dan sepsis (p<0,001). Variabel lainnya tidak hubungan bermakna dengan kejadian EKN dengan nilai p>0,05 sebagai berikut:  pemberian susu formula (p>0,387), anemia (p>0,234), penyakit jantung bawaan (p>0,556), dan preeklamsi/eklamsi pada ibu (p>0,556). Simpulan penelitian ini ialah prematur dan sepsis merupakan faktor risiko terjadinya enterokolitis nekrotikan pada neonatus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Kata kunci: faktor risiko; enterokolitis nekrotikan; neonatus
Gambaran Enuresis pada Anak Sekolah Dasar Tumbal, Anastasya G.; Umboh, Adrian; Rompis, Johnny L.
e-CliniC Vol. 14 No. 1 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i1.65843

Abstract

Abstract:  Enuresis is defined as involuntary voiding in children aged ≥5 years, occurring at least twice per week for three consecutive months, and not attributable to underlying medical conditions. Enuresis is influenced by biological, psychological, and environmental factors and remains commonly observed among primary school children. This study aimed to describe the occurrence of enuresis and its associated risk factors among elementary school children at Paal Dua District. A quantitative descriptive design with a cross-sectional approach was used. Samples were obtained through proportionate stratified random sampling from 250 respondents enrolled in SD Advent 3 Paal Dua, SD GMIM 22 Manado, and SD Advent 6 Kairagi Weru. Data were collected using the Clinical Management Tools (CMT) questionnaire from the Indonesian Urological Association and a previously validated and reliable research instrument. The findings showed that among the 15 children with enuresis, most were six years old (66.7%) and male (60%). The highest percentages were found in enuresis occurred predominantly at night (93.3%), the onset began since birth (66.7%), and voided 4–7 times per day (93.3%). The most frequently identified risk factors included toilet training at 3–4 years of age (73.3%), difficulty being awakened from sleep (53.3%), urinary tract infection complaints (33.3%), psychological stress (20%), and a history of constipation (26.7%). A family history of enuresis was present in 60% of cases, and the most common household composition was four family members (33.3%). In conclusion, enuresis remains present among primary school children in Paal Dua District, indicating the need for early detection and continuous parental education. Keywords: enuresis; elementary school children; nocturnal enuresis; risk factors    Abstract: Enuresis merupakan pengeluaran urin secara involunter pada anak usia ≥5 tahun dengan frekuensi minimal dua kali per minggu selama tiga bulan berturut-turut tanpa disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Enuresis dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan lingkungan, serta masih sering ditemukan pada anak sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian enuresis dan faktor risikonya pada anak sekolah dasar di Kecamatan Paal Dua. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh melalui teknik proportionate stratified random sampling dari 250 responden yang berasal dari SD Advent 3 Paal Dua, SD GMIM 22 Manado, dan SD Advent 6 Kairagi Weru. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Clinical Management Tools (CMT) dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia serta instrumen penelitian sebelumnya yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan dari 15 anak dengan enuresis, sebagian besar berusia 6 tahun (66,7%) dan berjenis kelamin laki-laki (60%). Persentase tertinggi didapatkan pada kejadian enuresis terutama terjadi pada malam hari (93,3%), onset enuresis sejak lahir (66,7%), dan frekuensi berkemih 4–7 kali per hari (93,3%). Faktor risiko yang paling banyak ditemukan meliputi toilet training pada usia 3–4 tahun (73,3%), sulit dibangunkan saat tidur (53,3%), keluhan infeksi saluran kemih (33,3%), riwayat stres (20%), serta riwayat sembelit (26,7%). Riwayat enuresis dalam keluarga ditemukan pada 60% anak, dan komposisi keluarga terbanyak adalah empat anggota dalam satu rumah tangga (33,3%). Simpulan penelitian ini ialah enuresis pada anak sekolah dasar di Kecamatan Paal Dua masih cukup sering ditemukan sehingga diperlukan upaya deteksi dini dan edukasi berkelanjutan kepada orang tua. Kata kunci: enuresis; anak sekolah dasar; enuresis nokturnal; faktor risiko