Penelitian ini bertujuan menelusuri ragam metafora yang memanfaatkan leksem-leksem dalam domain pertanian oleh masyarakat Pandhalungan. Perspektif penelitian ini adalah semantik kognitif sehingga dalam proses analisis data digunakan mekanisme kognitif, yaitu citra-skema dan metafora konseptual. Data yang digunakan adalah leksem-leksem dalam domain pertanian, dapat berupa tanaman, ritual, peralatan, organisasi, pengolahan lahan, dan pengolahan hasil. Data tersebut berupa bahasa yang hidup di masyarakat Pandhalungan (Jawa, Madura, atau bahasa Indonesia). Data diperoleh melalui simak bebas libat cakap, dokumentasi, wawancara, serta kuesioner. Untuk mendukung keabsahan data digunakan pengecekan data pada buku daftar istilah atau kamus pertanian serta melalui validasi ahli. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedekatan antara masyarakat Pandhalungan dengan pertanian serta akulturasi budaya yang terjadi di Pandhalungan memengaruhi cara berbahasa mereka. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya leksem domain pertanian yang digunakan sebagai metafora. Metafora tersebut dapat diklasifikasikan dalam metafora struktural, ontologis, dan orientasional. Fungsi digunakannya leksem pertanian sebagai metafora oleh masyarakat Pandhalungan adalah untuk memperjelas maksud pembicaraan, mengonkretkan entitas abstrak, serta membuat tuturan lebih eufemistis. Penelitian ini memberikan bukti bahwa masyarakat Pandhalungan percaya diri dan bangga terhadap identitasnya.Agricultural Metaphors in the Pandhalungan CommunityThis study explores the various metaphors that utilize lexemes in the agricultural domain by the Pandhalungan community. The research perspective is cognitive semantics, so the data analysis process employs cognitive mechanisms, namely image schema and conceptual metaphor. The data used consists of lexemes in the agricultural domain, which can include plants, rituals, tools, organizations, land cultivation, and processing of agricultural products. The data consists of Javanese, Madurese, or Indonesian languages. The data is obtained through free conversations, documentation, interviews, and questionnaires. To support data validity, data checks are conducted using agricultural glossaries or dictionaries, as well as expert validation. Data analysis is carried out using the interactive model by Miles & Huberman. The research findings suggest that the close relationship between the Pandhalungan community and agriculture, as well as the cultural acculturation that occurs in Pandhalungan, influence their way of speaking. This is evidenced by the significant use of agricultural domain lexemes as metaphors. These metaphors can be classified into structural, ontological, and orientational metaphors. The function of using agricultural lexemes as metaphors by the Pandhalungan community is to clarify the intended meaning of the discourse, concretize abstract entities, and make the utterance more euphemistic. This research provides evidence that the Pandhalungan community is confident and proud of its identity.