dan pendekatannya selalu mengalami perkembangan yang dinamis seiring dengan tuntutan dan evolusi pemikiran manusia terkait perkembangan zaman. Di era kontemporer, perkembangan ilmu pengetahuan dan globalisasi menantang pemikiran tentang wahyu. Mendorong para intelektual muslim untuk merekonstruksi pemahaman agar tetap relevan. Dua tokoh penting dalam upaya ini adalah Muhammad Arkoun dan Nasir Hamid Abu Zayd, yang dikenal karena pendekatan kritis dan progresif mereka dalam menafsirkan wahyu. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dan menganalisis pemikiran Muhammad Arkoun dan Nasir Hamid Abu Zayd dalam memahami wahyu dan Alquran, serta dampaknya terhadap pemahaman Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitif. Metode ini diterapkan untuk menguraikan dan menganalisis pemikiran Arkoun dan Abu Zayd secara menyeluruh dan mendalam mengenai pemahaman tentang wahyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara keseluruhan baik Arkoun maupun Abu Zayd melihat pentingnya konteks budaya dan sejarah dalam memahami wahyu Al-Qur'an, meskipun mereka menekankan aspek yang berbeda dalam proses pewahyuan dan transformasinya. Menurut Arkoun, Al-Qur'an awalnya wahyu langsung dari Allah, mutlak dan orisinal. Disampaikan sebagai wacana Qur'ani kepada Nabi, berubah menjadi mushaf, korpus resmi tertutup, kemudian bisa ditafsirkan. Abu Zayd melihat wahyu melalui tanzil dari Allah ke Jibril, lalu ta'wil oleh Nabi dalam bahasa Arab. Qur'an berubah dari ilahi menjadi konsep manusiawi, dengan peran budaya sosial ditekankan. Kedua pemikir ini mendorong interpretasi Al-Qur'an yang dinamis dan relevan dengan zaman modern, mengajak umat Islam untuk mempertimbangkan kembali cara mereka memahami dan menafsirkan wahyu, sehingga pemahaman Islam dapat terus berkembang dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman. Abstract The critical study of revelation in the field of 'ulūm al-Qur'ān with its various methods and approaches always experiences dynamic development in line with the demands and evolution of human thought related to the times. In the contemporary era, the development of science and globalization challenges thinking about revelation. Encouraging Muslim intellectuals to reconstruct understanding so that it remains relevant. Two important figures in this effort are Muhammad Arkoun and Nasir Hamid Abu Zayd, who are known for their critical and progressive approach to interpreting revelation. This research aims to describe and analyze the thoughts of Muhammad Arkoun and Nasir Hamid Abu Zayd in understanding revelation and the Koran, as well as their impact on contemporary understanding of Islam. This research uses analytical descriptive methods. This method is applied to describe and analyze Arkoun and Abu Zayd's thoughts thoroughly and in depth regarding the understanding of revelation. The research results show that overall both Arkoun and Abu Zayd see the importance of cultural and historical context in understanding the revelation of the Qur'an, although they emphasize different aspects in the process of revelation and transformation. According to Arkoun, the Koran was originally a direct revelation from Allah, absolute and original. Presented as a Qur'anic discourse to the Prophet, it was turned into a mushaf, a closed official corpus, then able to be interpreted. Abu Zayd saw revelations through tanzil from Allah to Jibril, then ta'wil by the Prophet in Arabic. The Qur'an changed from a divine to a human concept, with the role of social culture emphasized. These two thinkers encourage a dynamic and relevant interpretation of the Qur'an in modern times, inviting Muslims to reconsider the way they understand and interpret revelation, so that understanding of Islam can continue to develop and remain relevant in facing the challenges of the times.