Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menuju Identitas Digital Tunggal Untuk Organisasi Temporer: Tinjauan Sistematis Terhadap Integritas Data dan Perlindungan Pendapatan pada Acara Skala Besar Farhan Alif Budianto; Muharman Lubis; Iqbal Yulizar Mukti; Setyo Budianto
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v6i2.32736

Abstract

Organisasi temporer, seperti festival musik skala besar, beroperasi di bawah kondisi ekstrem yang ditandai dengan tenggat waktu yang tidak dapat diubah (immovable deadlines), generasi data berkecepatan tinggi, dan paparan risiko finansial yang signifikan. Meskipun digitalisasi tiket telah diterapkan, banyak acara masih menghadapi masalah "silo data" dan fragmentasi sistem informasi yang memicu kebocoran pendapatan serta profil audiens yang tidak akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi implementasi Sistem Informasi Manajemen Proyek (SIMP) dan arsitektur data terpusat dalam meningkatkan integritas data dan perlindungan pendapatan pada organisasi temporer skala besar, dengan studi kasus pada festival musik Soundsfest 2025 Jakarta. Menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif, penelitian ini menganalisis integrasi panduan PMBOK Edisi ke-7, siklus PDCA, dan arsitektur "Hub-and-Spoke". Data dikumpulkan dari laporan keuangan, log sistem, dan audit operasional yang melibatkan 59.000 pengunjung. Hasil menunjukkan implementasi kontrol akses RFID dan basis data terpusat berhasil mencegah duplikasi tiket dan memungkinkan pemantauan arus pengunjung real-time. Sistem ini mentransformasi model bisnis dari ketergantungan tiket menjadi ekosistem sponsor berbasis data, terbukti dari surplus pendapatan sponsor 250% (Rp7,05 miliar). Namun, fase evaluasi mengungkap celah data: 74% pengunjung non-transaksional (tamu undangan) belum terdigitalisasi, menjadi titik buta kritis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi organisasi temporer dengan kecepatan tinggi, Sistem Informasi berfungsi sebagai aset strategis utama untuk mitigasi risiko dan monetisasi data. Untuk memastikan integritas data absolut, penelitian ini mengusulkan kebijakan Identitas Digital Tunggal (Single Digital Identity), yang mewajibkan seluruh partisipan—termasuk tamu non-berbayar—untuk terintegrasi ke dalam ekosistem digital tunggal guna menghilangkan diskrepansi data dan memaksimalkan nilai strategis.
Transformasi Model Bisnis Industri Kreatif: Tinjauan Sistematis Pergeseran Strategi Promotor dari Penjualan Tiket Menuju Ekosistem Sponsor Berbasis Data Farhan Alif Budianto; Muharman Lubis; Iqbal Yulizar Mukti; Setyo Budianto
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v6i3.32737

Abstract

Latar belakang: Industri kreatif, khususnya festival musik, merupakan bentuk organisasi temporer (temporary organization) yang menghadapi tantangan unik berupa tenggat waktu absolut (immovable deadline) dan risiko finansial yang tinggi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi model bisnis dari ketergantungan pada penjualan tiket (Ticket-Sales Dependent - B2C) menjadi ekosistem kemitraan berbasis data (Data-Driven Sponsorship Ecosystem - B2B) melalui pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen Proyek. Metode: Dengan menggunakan studi kasus Soundsfest Jakarta 2025 sebuah inisiatif ekspansi strategis dari skala regional ke nasional penelitian ini mengevaluasi efektivitas penerapan standar PMBOK Guide Edisi ke-7 yang diintegrasikan dengan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan arsitektur sistem informasi berbasis Hub-and-Spoke. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sistem informasi, seperti teknologi Gate Access Control berbasis RFID, berhasil memvalidasi profil audiens sebagai aset strategis utama festival. Realisasi pendapatan sponsorship mencapai Rp 7,05 Miliar (surplus 250% dari target), secara signifikan melampaui pendapatan tiket sebesar Rp 3,42 Miliar. Temuan ini mendefinisikan ulang nilai ekonomi festival bagi sponsor yang kini lebih menghargai akurasi profil data audiens (Big Data) dibandingkan sekadar jumlah kerumunan fisik. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada organisasi temporer berkecepatan tinggi, sistem informasi berfungsi sebagai instrumen tata kelola (governance) untuk mitigasi risiko dan monetisasi data. Kontribusi praktis penelitian ini berupa model referensi tata kelola data digital dengan rekomendasi kebijakan Single Digital Identity untuk menjamin integritas data di masa depan.
Paradoks Kecepatan dan Stabilitas: Tinjauan Sistematis Sistem Informasi Manajemen Proyek (PMIS) pada Organisasi Temporer Berkecepatan Tinggi Farhan Alif Budianto; Muharman Lubis; Iqbal Yulizar Mukti; Setyo Budianto
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 6 No. 4 (2026): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v6i4.32738

Abstract

Organisasi temporer berkecepatan tinggi, seperti festival musik skala besar, menghadapi tekanan tenggat waktu dan risiko finansial tinggi, sehingga muncul “paradoks kecepatan dan stabilitas” antara kebutuhan eksekusi cepat dan tuntutan tata kelola. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran Sistem Informasi Manajemen Proyek (PMIS) dalam menjembatani kesenjangan antara integrasi data transaksional dan pengambilan keputusan strategis dalam ekosistem digital yang terfragmentasi. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) yang disintesis dengan temuan empiris dari proyek Soundsfest Jakarta 2025. Analisis dilakukan melalui kerangka siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan arsitektur informasi Hub-and-Spoke untuk mengevaluasi efektivitas PMIS dalam mengelola ekspansi proyek dari skala regional ke nasional dengan jumlah audiens lebih dari 59.000 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMIS berfungsi sebagai aset strategis, bukan sekadar alat operasional. Transformasi model bisnis berhasil tercermin dari pergeseran pendapatan utama, dari penjualan tiket B2C sebesar Rp3,42 miliar menjadi kerja sama sponsor B2B berbasis data sebesar Rp7,05 miliar. Namun, ditemukan “titik buta data” kritikal, di mana hanya 26% pengunjung fisik yang terekam secara digital akibat sistem guestlist dan komunitas yang belum terintegrasi. Ketergantungan pada komunikasi informal juga menimbulkan kekosongan jejak audit. Penelitian ini merekomendasikan kebijakan Single Digital Identity dan tata kelola data real-time berbasis audit otomatis untuk mentransformasikan PMIS menjadi sistem pendukung keputusan proaktif dalam mitigasi risiko dan monetisasi data.