Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Sistem Manajemen Pengetahuan Tumbuhan Obat Indonesia Berbasis Ontologi Syukriyansyah; Wisnu Ananta Kusuma; Annisa
Jurnal Ilmu Komputer dan Agri-Informatika Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Ilmu Komputer, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jika.10.2.147-163

Abstract

Pengetahuan tumbuhan obat oleh masyarakat atau etnis lokal untuk penyakit atau gejala tertentu telah berperan penting dalam penemuan beberapa obat berharga yang telah digunakan secara turun-temurun selama bertahun-tahun. Selain itu, banyak sumber pengetahuan tumbuhan obat Indonesia yang heterogen dan terpisah-pisah sehingga sangat penting untuk mengintegrasikannya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan sistem manajemen pengetahuan (KMS) yang dapat menyimpan, mengelola, berbagi, dan merepresentasikan pengetahuan tumbuhan obat Indonesia sehingga dapat dibagikan, digunakan kembali, dan dimanfaatkan dalam kesehatan Indonesia. Penelitian ini menggunakan ontologi sebagai pola dalam membangun grafik pengetahuan dengan menggunakan basis data graf Neo4j dan kueri Chyper untuk melakukan penalaran pengetahuan berbasis graf. Penalaran pengetahuan berbasis graf digunakan untuk memperoleh pengetahuan terkait. Ontologi dibangun berdasarkan konsep kunci dalam pengobatan tradisional kemudian dipadukan dengan ontologi penyakit (DO) untuk mengatasi kesenjangan antara istilah pemanfaatan tumbuhan tradisional dan istilah medis serta memperkaya pengetahuan kedokteran Indonesia. Sumber data yang digunakan untuk membangun ontologi antara lain adalah Laporan Nasional Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan Obat di Indonesia Berbasis Komunitas, integreted Digitized Biocollections (iDigBio), Global Biodiversity Information Facility (GBIF), Disease Ontology (DO), Basis Data Tanaman Obat Indonesia (HerbalDB), Dr. Duke’s Phytochemical and Ethnobotanical Databases (Dr. Duke’s), Indian Medicinal Plants, Phytochemystry and Teurapeutics (IMPPAT), Collection of Open Natural Products (COCONUT), KNApSAcK, BioGRID, DisGeNET, dan Side Effect Resource (SIDER). Sistem dikembangkan dengan arsitektur REST API yang terdiri dari front-end (klien) dan back-end (server). Klien memiliki dua sistem utama, yaitu pencarian pengetahuan dan manajemen pengetahuan.
MORAL REASONING AND DISCOURSE FRAGMENTATION IN YOUTUBE COMMENTS ON SEXUAL VIOLENCE CASES INVOLVING RELIGIOUS AUTHORITY Damayanti, Annisa; Syukriyansyah
Jurnal Netnografi Komunikasi Vol. 4 No. 2 (2025): Vol. 4 No. 2 (2025): JNK National Accredited Rank. SINTA 5 based on SK Kemdikti
Publisher : Communication Science Department - Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Satya Negara Indonesia (USNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59408/jnk.v4i2.124

Abstract

This study examines moral reasoning and discourse fragmentation within the YouTube comment section of a viral video detailing a case of sexual violence involving a religious authority figure in Indonesia. Employing a Mixed Methods Social Network Analysis (MMSNA) approach, we analyzed 6,018 comments from 5,484 users to map the network structure, identify communicative communities, and assess emotional polarization via sentiment analysis. Findings reveal a highly fragmented and sparse network with low user interactivity, dominated by isolated, small-scale communities. Despite this structural fragmentation, sentiment analysis showed a predominance of neutral expressions (76.9%), with limited emotional polarization between the six main thematic communities identified. These communities function as distinct "affective micro-publics," articulating responses through specific discursive roles: moral-religious condemnation, emotional support, social reflection, fear of stigma, digital activism, and social ethics critique. The study concludes that the digital discourse operates not as a unified deliberative space but as a constellation of value-aligned clusters, where morality and empathy, rather than rational debate, mediate public participation. This underscores the role of platform architecture in fostering affective enclaves around sensitive socio-religious issues.