Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dinamika Narasi Meme Pada Pilkada di Aceh: Perspektif Netnografi dan Dekonstruksi Sosial Gadeng, Irwan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.24839

Abstract

Fenomena meme telah menjadi salah satu elemen komunikasi digital, khususnya dalam konteks sosial dan politik. Artikel ini mengeksplorasi dinamika narasi meme selama Pemilihan Gubernur Aceh 2024 melalui pendekatan netnografi dan dekonstruksi sosial. Meme tidak hanya berfungsi sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan kritik sosial, membentuk opini publik, dan mempengaruhi pandangan atau pilihan sikap politik seseorang. Dalam masyarakat Aceh. yang kaya dengan tradisi lokal, meme mencerminkan dinamika sosial yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini mengadopsi netnografi sebagai metode utama untuk memahami interaksi digital yang terbentuk di media sosial TikTok. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali narasi yang terkandung dalam video meme, serta mengidentifikasi pola interaksi dan respons masyarakat terhadapnya. Dengan mengintegrasikan dekonstruksi sosial, penelitian ini membongkar lapisan-lapisan makna tersembunyi dalam meme, termasuk bias ideologis dan struktur sosial yang memengaruhi wacana politik di Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme politik tidak hanya merefleksikan kritik sosial tetapi juga menjadi ruang eksplorasi kreatif bagi masyarakat digital. Salah satu contoh menarik adalah video meme "I Taufik I Woe di Dayah" yang awalnya bersifat humor namun berkembang menjadi wacana sosial dan politik yang viral menjelang Pilgub Aceh 2024. Narasi yang terbentuk dari video ini menunjukkan bagaimana terdengar kesalahan pengucapan sederhana dapat dimanfaatkan menjadi dialog kritis dan candaan sehari-hari yang melibatkan tokoh politik tertentu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meme berperan penting sebagai medium komunikasi politik di era digital. Melalui analisis netnografi dan dekonstruksi sosial, artikel ini mengungkap bagaimana meme mampu membentuk opini publik, mendekonstruksi wacana politik, dan menciptakan ruang baru untuk dialog sosial. Hal ini menggambarkan hubungan kompleks antara budaya digital, media sosial, dan dinamika politik lokal di Aceh.
HAJI UMA DALAM PARADIGMA DEKONSTRUKSI PEMBERITAAN MEDIA Gadeng, Irwan
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v6i2.21112

Abstract

This study aims to analyze and deconstruct the political-social image of Haji Uma, a Regional Representative Council (DPD RI) senator from Aceh, known for his social activities and background as a local comedy film actor. The research focuses on how the media constructs Haji Uma's image of compassion and the extent to which this image functions as a political branding strategy rather than substantive advocacy for Acehnese aspirations at the national level. Employing Derrida's deconstruction approach, the study dissects dominant narratives shaped by media coverage, comparing them with public perception and institutional performance realities. Data were collected through in-depth interviews with academics, along with literature review and media content analysis. The findings reveal that Haji Uma's social activity strategies hold strong empathetic value in the public eye but are also systematically utilized as political image-building tools to enhance popularity without demonstrating deep engagement in substantive policy advocacy. This study uncovers an imbalance between symbolic representation in the public sphere and strategic responsibility as a DPD RI member