Negoro, Widigdo Rekso
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

GAMBARAN SUHU TUBUH DAN KEJADIAN MENGGIGIL PADA PASIEN MASTEKTOMI DENGAN ANESTESI UMUM INTUBASI Priyonggo, Reko; Cahyani, Rina Asih; Laksono, Bayu Budi; Negoro, Widigdo Rekso
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.41286

Abstract

Menggigil adalah peningkatan metabolism panas tubuh yang bersifat involunter melalui aktifitas otot dan terjadi ketika suhu permukaan tubuh lebih tinggi disbanding suhu preoptik hipotalamus. Menggigil dapat dipengaruhi oleh jenis dan lamanya tindakan pembedahan. Menggigil menjadi salah satu permasalahan serius karena dapat meningkatkan oksigen, metabolism tubuh, dan tekanan darah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi suhu tubuh dan kejadian menggigil pada pasien mastektomi dengan anestesi umum intubasi di Instalasi Kamar Bedah RS Tk. II dr. Soepraoen Malang. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif observasional dengan melakukan observasi langsung ke lapangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling. Analisis penelitian ini menggunakan teknik analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan teknik uji hipotesa Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien masuk kategori dewasa (20-60 tahun) sebanyak 28 pasien dan berdasarkan IMT sebagian besar pasien dalam kategori 18-25 sebanyak 19 responden. Observasi 30 menit pertama diperoleh hasil bahwa sebagian besar pasien mengalami hipotermi yakni sebanyak 19 pasien (52,8%) dan 30 menit kedua juga didominasi pasien yang mengalami hipotermi sedang yakni sebanyak 26 pasien (72,2%). Mayoritas pasien tidak menggigil sebanyak 25 pasien (69,4%). Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square dan IMT pasien dibuktikan dengan nilai pearson Chi-Square usia 0,26. Hasil uji Chi-Square IMT = 0,01 membuktikan bahwa terdapat pengaruh IMT terhadap kejadian menggigil.
PERBEDAAN EFEK EPHEDRINE 10 MG DAN PHENYLEPRINE 50 MG DALAM TATALAKSANA HIPOTENSI PADA SECTIO CAESAREA DENGAN ANESTESI SPINAL Sintara, Sindu; Syamsudin, Syamsudin; Rodli, Muhammad; Negoro, Widigdo Rekso; Permana, Annes Rindy
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.41287

Abstract

Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi untuk tindakan Sectio caesarea. Teknik ini dilakukan dengan menyuntikkan obat anestesi lokal ke subarachnoid yang bertujuan untuk menghilangkan sensasi nyeri saat dilakukan tindakan pembedahan. Namun, anestesi spinal dapat menyebabkan komplikasi salah satunya yang paling sering terjadi yakni hipotensi. Ephedrine 10 mg dan phenyleprine 50 mg dianggap dapat membantu meningkatkan tekanan darah pasien yang mengalami hipotensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara ephedrine 10 mg dengan phenylephrine 50 mg pada pasien Sectio caesarea pasca tindakan anestesi spinal. Metode yang digunakan yakni quasy eksperimen dengan desain penelitian pre-experimental one group pretest-postest. Populasi dalam penelitian ini merupakan pasien RSU Mahkota Bidadari Langkat yakni sebanyak 100 pasien. Dari 100 pasien dipilih 60 pasien yang digunakan sebagai sampel penelitian dengan menggunakan teknik total sampling. Analisis menggunakan teknik univariat dan bivariat dengan teknik pengujian uji independent sample t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan tekanan darah pasien Sectio caesarea setelah diberikan ephedrine 10 mg dan phenyleprine 50 mg di RSU Mahkota Bidadari Langkat dengan nilai p=0,000 < 0,05. Tekanan darah sistolik dengan nilai t-hitung = -4,079 dan tekanan darah diastolik dengan nilai p=0,000 < 0,05 dan nilai t-hitung = -3,433.
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN PREOPERASI DENGAN KEJADIAN MUAL MUNTAH PASIEN POST OPERASI DENGAN GENERAL ANESTESI (RS BHAYANGKARA TK III TEBING TINGGI SUMATERA UTARA) Negoro, Widigdo Rekso; Batuara, Tobok Sihar Hamonangan; Rodli, Muhammad; MR, Merisdawati
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.41408

Abstract

General anesthesia merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan nyeri, menghilangkan kesadaran dan menyebabkan amnesia pasien preoperasif. Pasien yang akan menjalani operasi sering merasa cemas yang disebabkan oleh banyak faktor. Kecemasan preoperasi dapat menjadi pemicu timbulnya mual hingga muntah (Post Operative Nausea and Vomiting). Penelitian ini menerapkan metode analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan pasien preoperasif dengan kejadian Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) pasien general anestesi. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III Tebing Tinggi dengan populasi penelitian sebanyak 100 pasien general anestesi dengan sampel sebanyak 50 orang. Teknik consecutive sampling digunakan untuk memilih sampel yang sesuai dengan kriteria penelitian dan analisis data dilakukan dengan 2 cara yakni secara univariat dalam tabel distribusi frekuensi dan bivariat dengan menggunakan teknik uji Rank Spearman Rho. Dari hasil penelitian ini, diperoleh hasil kesehatan pasien preoperasif di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III Tebing Tinggi mengalami cemas berat (32,0%) dan mayoritas pasien mengalami retching atau muntah (60,0%). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara kecemasan preoperatif dengan kejadian Post-Operative Nausea Vomiting (PONV) pada pasien general anestesi di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.III Tebing Tinggi dengan p-value=0,001, dengan koefisien korelasi tingkat sedang (r=0,463). Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa kecemasan preoperatif berhubungan dengan kejadian PONV pada pasien general anestesi.
PENGARUH ELEVASI KAKI TERHADAP TEKANAN DARAH PASCA SPINAL ANESTESI PADA PASIEN SECTIO CAESAREA Suryanto, Suryanto; Samosir, Theresia Angela; Patria, Dion Kunto Adi; Negoro, Widigdo Rekso; Permana, Annes Rindu
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.41925

Abstract

Sectio caesarea adalah tindakan pembedahan yang bertujuan mengeluarkan janin melalui insisi abdomen dan uterus. Tindakan ini menyebabkan pasien mengalami hipotensi setelah tindakan spinal anestesi. Tindakan elevasi kaki diduga dapat meningkatkan tekanan darah pasien sectio caesarea. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tindakan elevasi kaki terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea. teknik yang digunakan pada penelitian ini yakni quisy eksperimen dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Populasi penelitian ini merupakan pasien sectio caesarea RSU Mitra Sejati Medan sebanyak 90 pasien dan dengan teknik total sampling, seluruh populasi digunakan sebagai sampel penelitian. Analisis penelitian ini menggunakan Teknik analisis univariat dan bivariat dengan Teknik uji statistik paired sample t-test dengan taraf kepercayaan sebesar 90% (  = 0,05). Hasil penelitian ini karakteristik responden didominasi usia 20-35 tahun (61,2%), semasa kehamilan pasien dalam kategori gemuk (80%), dan mayoritas pasien belum pernah menjalani SC sebelumnya (70%). Elevasi kaki berpengaruh terhadap tekanan darah yang dibuktikan dengan nilai p-value untuk tekanan sistolik dan diastolic dibawah 0,05.
GAMBARAN PEMBERIAN INFUS HANGAT TERHADAP MENGGIGIL PASCA SECTIO CAESAREA RSU MITRA DELIMA Negoro, Widigdo Rekso; Priyonggo, Reko; Saputra, Candra Dwi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.27175

Abstract

Menggigil adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan hipotermi. Menggigil berpotensi memberikan dampak buruk pada pasien termasuk peningkatan konsumsi oksigen, hipoksemia, dan memperparah nyeri operasi. Penggunaan cairan infus yang hangat merupakan salah satu strategi yang digunakan di instalasi bedah sentral (IBS) untuk membantu menjaga kenyamanan dan stabilitas suhu tubuh pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran pemberian cairan infus hangat terhadap pencegahan menggigil pascaoperasi pada pasien pembedahan Sectio Caesarea di RSU Mitra Delima Malang. Desain dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, jumlah sampel sebanyak 50 responden yang diambil secara consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah cairan infus hangat, jam tangan, termometer digital, dan lembar prosedur pemberian infus hangat. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi kemudian data dianalisis secara deskriptif untuk menentukan frekuensi dan persentase dari kejadian menggigil pascaoperasi. Hasil penelitian didapatkan Derajat menggigil paling banyak adalah derajat 0 tidak menggigil sebanyak 42 responden (84%), derajat 2 sebanyak 2 responden (4%), derajat 3 sebanyak 5 responden (10%), derajat 4 sebanyak 1 responden (2%). Kejadian menggigil dari 50 responden yang diteliti, hanya terjadi pada 8 responden atau 16% yang menggigil, sedangkan pada 42 responden atau 84% responden tidak menggigil. Simpulan penelitian menunjukkan penggunaan cairan infus hangat efektif dalam pencegahan terjadinya menggigil pada pasien pascaoperasi sectio cesarea.
ANALISIS FAKTOR KECEMASAN PADA PASIEN PRAOPERASI LAPARATOMI DENGAN GENERAL ANESTESI DI ITSK DR. SOEPRAOEN MALANG Priyonggo, Reko; Negoro, Widigdo Rekso; Winanda, Dedek
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.27188

Abstract

Penggunaan general anastesi pada pasien laparatomi dapat menimbulkan kecemasan karena pasien akan kehilangan kesadaran selama operasi dan menghadapi ketidakpastian terkait proses anestesi dan efek sampingnya. Selain itu, ketakutan akan risiko dan komplikasi general anestesi juga dapat menyebabkan kecemasan yang tinggi pada pasien menjelang prosedur laparatomi. Tujuan : Menganalisis faktor kecemasan pada pasien praoperasi laparatomi dengan general anestesi. Penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di RST dr.Soepraoen, pada bulan Mei - Juni 2023. Populasi penelitian sebanyak 55 orang dan seluruhnya dijadikan sampel. Pemilihan sampel dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dalam tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Gamma pada taraf kepercayaan 95% (a = 0,05). Pola kecemasan pasien praoperasi laparatomi dengan general anestesi di RST dr.Soepraoen berhubungan signifikan dengan umur (p = 0,003, r = 0,714), jenis kelamin (p = 0,000, r = 0,762), pendidikan terakhir (p = 0,000, r = -0,753), dan pengalaman operasi sebelumnya (p = 0,000, r = -0,826). Umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan pengalaman operasi sebelumnya berhubungan dengan pola kecemasan pada pasien praoperasi laparatomi. Disarankan pada perawat anestesi untuk memberikan teknik relaksasi sederhana seperti pernapasan dalam, meditasi, atau visualisasi yang dapat membantu pasien mengelola kecemasan sebelum operasi.