Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Heterogenitas Makna Simbolik Atap Masjid Jami’ Pontianak Rissa , Rissa Fitria Syafutri; Fiska , Fiska Hidayat; Gusti Rahman Adhiarza; Ayu , Tidi Ayu Lestari
Vokasi: Jurnal Publikasi Ilmiah Vol. 19 No. 2 (2024): Vokasi: Jurnal Publikasi Ilmiah
Publisher : Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31573/jv.v19i2.1027

Abstract

As a city with high social heterogeneity, historical buildings in Pontianak are inseparable from symbolic elements with diverse meanings. This city began with the arrival of Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie, son of Putri Nyai Tua, a lady-in-waiting in the Matan Kingdom and Al-Habib Husin, who sailed from South Arabia to spread Islam. The Pontianak Jami’ Mosque, which Sultan Abdurrahman founded, was inseparable from the diversity of cultural, political and social elements at that time. This study aims to understand one of the elements of the Jami' mosque building, namely the roof, which is quite dominant in scale proportions. The analysis of the meaning of the mosque's roof uses semiotics by Charles Sanders Pierce and is supported by data from related literature. The study results show that heterogeneity and high tolerance values have long been in the veins of the first building built in Pontianak. The architectural elements of ancient Indonesian mosques, which are full of Islamic values, ​​blend with European architectural symbols, as well as the local values ​​of the Kalimantan region itself.
REVITALISASI KAWASAN BERSEJARAH KANTOR POS LAMA PONTIANAK SEBAGAI DAYA TARIK WISATA KOTA: KAJIAN PERSEPSI, POTENSI DAN STRATEGI PENGELOLAAN Gusti Rahman Adhiarza
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 6 No. 1: June 2025
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v6i1.10583

Abstract

Kawasan Kantor Pos Lama Pontianak merupakan salah satu warisan arsitektur kolonial yang memiliki nilai sejarah dan spasial penting dalam pembentukan identitas kota. Terletak di wilayah bersejarah “Tanah Seribu” (Duizend Vierkanten Paal), kawasan ini mencerminkan jejak perkembangan awal kota Pontianak. Meskipun demikian, potensinya sebagai destinasi wisata sejarah belum dimanfaatkan secara optimal. Studi ini mengkaji potensi pengembangan kawasan sebagai objek wisata sejarah melalui analisis aspek historis, arsitektural, aktivitas sosial dan keterhubungan spasial. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui teknik observasi lapangan, wawancara, pemetaan spasial, dan studi literatur. Temuan menunjukkan bahwa kawasan memiliki karakteristik kuat untuk mendukung pengembangan wisata sejarah berbasis pelestarian. Masyarakat menunjukkan persepsi positif terhadap pentingnya pelestarian, namun belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang terintegrasi. Studi ini merekomendasikan pembentukan tim pengelola lintas sektor dan pengembangan kawasan sebagai koridor wisata sejarah kota Pontianak yang berbasis komunitas dan interpretasi sejarah