Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Threshold dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia Fadlillah, Istiqomah
Staatsrecht: Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Staatsrecht Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/staatsrecht.v2i1.2532

Abstract

Abstrak: Pemilihan umum merupakan isntrumen penting dalam negara demokrasi dengan sistem perwakilan, perkembangan pemilihan umum dalam konsep demokrasi Indonesia membawa threshold pada setiap sistem bentuk pemilihan umum, mulai dari electoral treshold sebagai syarat partai politik dapat ikut serta dalam Pemilu, parliamentary treshold sebagai bentuk ambang batas partai untuk menduduki kursi parlemen pusat, sehingga presidential treshold sebagai ambang batas suara partai untuk mengusung calon presiden dan wakil presiden dalam pemilihan, lahirnya aturan ambang batas diwarnai dengan berbagai polemik di masyarakat yang menanggapi secara pro dan kontra terkait aturan tersebut perdebatan panjang dalam menentukan ambang batas pencalonan presiden dan wakil presiden terjadi cukup alot pada saat pembahasan Rancangan RUU Pemilu, pemilihan umum diselenggarakan sebagai pengakuan atas hak setiap warga negara dijamin dalam konstitusi. Partisipasi rakyat dalam politik merupakan salah satu syarat sosial yang urgent dari pemerintahan yang demokratis. Sebab kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi tercermin dalam ungkapan sistem pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, “government of the people by the people for the people”, dengan tujuan utama memberikan kebahagiaan yang sebesar-sebesarnya kepada rakyat. Sehingga threshold berpotensi menimbulkan pelanggaran hak konstitusional warga negara yang dijamin konstitusi.
From Anthropocentric to Ecocentric Jurisprudence: A Maqasid-Based Reconstruction of Islamic Environmental Ethics toward Intergenerational Equity Kurniawan, Achmad Alfan; Fadlillah, Istiqomah
Al'Adalah Vol. 28 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v28i2.666

Abstract

This article reconstructs Islamic environmental ethics from a stewardship framework that is persuasive towards an ecocentric jurisprudence based on maqasid, which responds to the demands of intergenerational equity. Using a normative-conceptual approach, this study analyses the anthropocentric bias in the discourse and governance of Islamic environmental issues. The main findings indicate that anthropocentrism rarely appears as an explicit doctrine but operates as a recurring pattern of legal reasoning in framing problems, policy priorities, and institutional design. As a result, this article outlines a typology of anthropocentric reasoning, specifically instrumental-extractivist, normative-symbolic dualism, sectoral-coordinative fragmentation, and centralisation-participation deficits. It also identifies normative anchors for the shift towards an ecocentric perspective, where maqasid and maslahah serve as a grammar of justification requiring the reading of consequences and the prevention of ecological mafsadah; the Qur’anic ontology as a principle of limitation; and classical conservation institutional memory as an inspiration for modern ecological accountability. Within this framework, intergenerational equity is formulated as a normative horizon that tests short-termism, burden shifting, and the safeguarding of ecological baselines for the future. The contribution of this article is an analytical and reconstructive framework that bridges Islamic environmental ethics and intergenerational justice, while also proposing an initial institutional pathway for more consistent Islamic environmental governance across sectors and generation.