Kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia menyebabkan kerusakan pada sejumlah koleksi, salah satunya adalah Arca Siwa Mahadewa (No. Inv. 18542), sebuah masterpiece yang sangat penting dan berharga. Sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana, konservasi arca ini dilakukan dengan mengutamakan prinsip-prinsip etika konservasi, termasuk penggunaan metode reversible, pemeriksaan ilmiah, penggunaan bahan asli, serta pelestarian bentuk dan karakteristik arca agar tetap autentik. Proses konservasi mencakup beberapa langkah utama, yaitu identifikasi kondisi arca secara visual dan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) portable, pembersihan debu dan kotoran, penghilangan korosi, restorasi pada bagian lengan yang patah, konsolidasi untuk memperkuat struktur arca, serta pelapisan (coating) untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Hasil analisis XRF menunjukkan bahwa arca mengandung perunggu, perak, dan sedikit emas, yang mengindikasikan bahwa arca pernah dilapisi emas, meskipun lapisan tersebut telah terkikis seiring waktu. Dalam pemulihan ini, bahan-bahan tradisional seperti jeruk nipis, asam jawa, abu bambu, dan gale (campuran getah damar, serbuk batu bata dan minyak kelapa) digunakan, yang terbukti efektif secara ilmiah dalam menstabilkan kondisi arca tanpa merusak keasliannya. Selama restorasi, perbedaan pendapat mengenai arah lengan arca diselesaikan melalui diskusi antara konservator dan kurator dengan mempertimbangkan bukti dokumentasi yang ada. Pemulihan ini berhasil mengembalikan kondisi arca dengan tetap mempertahankan nilai historis dan integritasnya, sekaligus menunjukkan pentingnya pendekatan konservasi yang sesuai etika dalam pemulihan warisan budaya pascabencana.