Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

AKULTURASI ARSITEKTUR BALI PADA KLENTENG LING SII MIAO DI KECAMATAN DENPASAR SELATAN, PROVINSI BALI PADA TAHUN 2011-2023 Riski Bagas Prakoso
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Titd Ling Sii Miao Tanah Kilap, Denpasar Yang Penuh Dengan Akulturasi Dua Budaya Antara Tionghoadan Bali Yang Terkandung Dalam Bangunannya Membuat Klenteng Ini Terasa Berbeda. Nilai-Nilai Tri Dharma Dan Budaya Bali Yang Biasa Dirasakan Pengunjung Klenteng Tidak Disadari Bahwa Itu Merupakan Pengaruh Desain Klenteng Ini. Sejarah, Seni, Dan Agama Yang Berjalan Bersama Dari Jaman Itu, Hingga Saat Ini Pun Tidak Dapat Dipisahkan, Karena Setiap Detail Desain Bangunan, Seperti Klenteng Ini, Penuh Dengan Cerita Sejarah, Seni Dan Nilai Tri Dharma Dan Budaya Bali. Penelitian Ini Mempelajari Dan Memahami Setiap Detail Elemen Bangunan Yang Dilihat Dari Arsitektur Dan Interiornya, Tentang Akulturasi Budaya Bali-Tionghoa Dalam Desain Titd Ling Sii Miao Tanah Kilap, Denpasar Ini.
Persamaan Kebudayaan Bali Dan Banyuwangi Ditinjau Dari Aspek Historis Hubungan Kerajaan Blambangan Banyuwangi Dan Kerajaan Mengwi Bali Riski Bagas Prakoso; I Ketut Ardhana; Anak Agung Inten Asmariati
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 4 (2025): APRIL 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan Bali dan Banyuwangi dahulu hingga sekarang sangatlah erat, selain karena letak posisi geografis yang dekat hubungan antara Bali dan Banyuwangi juga dipengaruhi oleh unsur sejarah masa lampau yang dimana dahulu salah satu Kerajaan di Bali yakni Mengwi pernah menguasai Kerajaan Blambangan yang ada di Banyuwangi hal inilah merupakan salah satu penyebab dari eratnya hubungan antara Bali dan Banyuwangi, selain itu tidak bisa dipungkiri akibat dari hubungan yang sudah erat sejak jaman dahulu menyebabkan adanya persamaan dan perbedaan kebudayaan antara Bali dan Banyuwangi akibat akulturasi budaya, beberapa kebudayaan di Bali maupun di Banyuwangi memiliki persamaan yang mendasar seperti kesenian barong yang memiliki kesamaan bentuk dan makna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptip kualitatif dengan menggunakan sumber-sumber yang telah tersedia. Tujuan Penelitian ini untuk membandingkan persamaan dan perbedaan budaya Bali dan Banyuwangi kepada para pembaca.
Sekala-Niskala: Dinamika Makna Sakit Fisik dan Tidak Kasatmata dalam Kepercayaan Masyarakat Bali (2000-2025) I Gde Bayu Samudra; Riski Bagas Prakoso
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 04 (2026): April 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perspektif medis modern, sakit umumnya dipahami sebagai kondisi rasional yang dapat diukur melalui indikator klinis dan ditangani secara profesional. Namun, dalam realitas sosial masyarakat Bali, sakit tidak hanya dimaknai sebagai gangguan fisik, tetapi juga berkaitan dengan dimensi non-medis yang tidak kasatmata (niskala). Studi ini bertujuan mengkaji dinamika pemaknaan sakit dalam kerangka sekala dan niskala, serta melihat bagaimana keduanya berinteraksi dalam praktik kesehatan masyarakat Bali kontemporer periode 2000–2025. Studi ini menggunakan metode sejarah yang dipadukan dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara lapangan di Denpasar, Tabanan, Gianyar, dan Buleleng, serta didukung oleh studi dokumen. Analisis dilakukan secara kritis untuk memahami konstruksi makna sakit dalam konteks sosial-budaya. Hasil studi menunjukkan bahwa masyarakat Bali memaknai sakit sebagai pengalaman multidimensional. Praktik kesehatan mencerminkan adanya negosiasi antara pendekatan medis modern (sekala) dan kepercayaan lokal (niskala), yang diterapkan secara fleksibel sesuai situasi. Keberlangsungan kedua dimensi ini dipengaruhi oleh budaya, pengalaman empiris, dan peran lingkungan sosial. Interaksi tersebut melahirkan praktik medical pluralism, di mana sistem medis dan non-medis berjalan berdampingan. Dengan demikian, pemaknaan sakit di Bali kontemporer merupakan hasil interaksi kompleks antara budaya, kepercayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Studi ini menegaskan pentingnya pendekatan kesehatan yang sensitif terhadap konteks budaya lokal guna menghadirkan layanan yang lebih efektif dan kontekstual.