Kebisingan yang bersumber dari aktivitas transportasi menjadi salah satu bentuk pencemaran lingkungan yang perlu mendapat perhatian, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat mobilitas tinggi. Di Kota Mataram, peningkatan penggunaan kendaraan bermotor berkaitan erat dengan pertumbuhan sektor ekonomi, perdagangan dan pariwisata. Selama dua dekade terakhir, angka kepemilikan kendaraan di kota ini meningkat sekitar 5,3%, sejalan dengan kecenderungan masyarakat yang memilih kendaraan pribadi karena lebih praktis untuk mobilitas harian. Sebagai pusat aktivitas di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram juga menjadi tujuan urbanisasi dari wilayah sekitar, yang turut menambah kebutuhan transportasi terutama penambahan moda transportasi. Salah satu titik yang mengalami intensitas lalu lintas tinggi adalah Bundaran Tugu Tembolak di Sandubaya, yang berfungsi sebagai penghubung beberapa jalan utama sekaligus sebagai elemen lanskap kota. Area di sekitarnya terdiri dari pertokoan, permukiman, dan pusat kegiatan masyarakat sehingga menghasilkan arus kendaraan yang padat, khususnya roda dua. Kondisi ini menjadi dasar dilakukannya kajian prediksi kebisingan menggunakan model Calculation of Road Traffic Noise (CoRTN). Penelitian mencakup pengukuran volume kendaraan, kecepatan, kondisi geometrik jalan, serta pemodelan lalu lintas dengan PTV Vissim untuk memperkirakan tingkat kebisingan lima tahun mendatang. Hasil analisis memperlihatkan kecenderungan kenaikan kebisingan dari 2025 hingga 2030 pada empat ruas jalan sekitar bundaran, dengan peningkatan rata-rata dari 74,38 dB(A) menjadi 75,06 dB(A). Secara statistik, kenaikan ini signifikan pada uji satu arah. Nilai prediksi masih lebih rendah dibandingkan pengukuran lapangan sebesar 78,27 dB(A), namun tetap melebihi baku mutu 70 dB(A) untuk kawasan perdagangan dan jasa. Temuan ini menunjukkan tren peningkatan kebisingan yang berpotensi memengaruhi kenyamanan dan kesehatan masyarakat. Kata Kunci:Noise ,Vissim, CoRTN, , roundabout, noise level.