kota denpasar merupakan ibu kota dari Provinsi Bali, dimana Kota Denpasar menjadi salah satu daerah pusat pemerintahan dan perekonomian di Bali. Industri konveksi di Bali sangat berkembang pesat karena bisnis konveksi masih menjadi salah satu usaha yang sangat diminati. industri pakaian jadi masih berhadapan dengan masalah klasik, yaitu modal. Dalam sebuah industri, hal yang berperan penting adalah modal. Sulitnya akses untuk mendapatkan kredit, dan juga Tingkat suku bunga bank tinggi, akhirnya menyebabkan industri pakaian jadi tidak dapat berkembang untuk meningkatkan hasil produksinya. Di tambah lagi saat ini teknologi di industri semakin maju, maka standar keahlian tenaga kerjanya merupakan suatu keharusan agar dapat menyesuaikan dengan tuntutan teknologi tersebut. Kondisi yang buruk akan terjadi, jika keadaan tersebut dibiarkan terus-menerus berlangsung, tentunya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan menimbulkan efek negatif bagi perekonomian di Kota Denpasar, bahkan secara lebih luas akan mempengaruhi perekonomian Bali. Perbedaan dari segi desain yang berbeda dari kebutuhan atau keinginan konsumen menjadi permasalahan dalam usaha konveksi. Apabila permasalahan ini tidak segera diatasi, maka keberadaan usaha konveksi di Kota Denpasar tidak akan berkembang dengan baik dan akan mempengaruhi pendapatan usaha tersebut. Jumlah konveksi terbanyak terdapat di Kota Denpasar yakni sebanyak 939 industri konveksi yang tersebar, hal ini dikarenakan Denpasar menjadi pusat perdagangan di Provinsi Bali. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisi deskriptif, regresi linier berganda. Jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan pendekatan Slovin dengan titik kritis 10 persen, maka diperoleh sampel sebanyak 90 responden dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara terstruktur. Hasil penelitian ini memperkuat teori bahwa modal, tenaga kerja bentuk usaha berpengaruh terhadap pendapatan. Temuan ini dapat mendorong perusahaan konveksi untuk mempertimbangkan strategi pengolahan tenaga kerja lebih efektif.