Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara kematangan spiritual dan orientasi beragama dengan tingkat toleransi beragama pada umat Advent Hari Ketujuh di Indonesia. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei digunakan untuk memperoleh data empiris yang merepresentasikan kondisi aktual umat. Instrumen penelitian meliputi Adventist Religious Life Profile, yang terdiri dari Skala Orientasi Keagamaan Intrinsik/Ekstrinsik–Revisi, Indeks Kematangan Rohani, serta Inventaris Toleransi Beragama yang dikembangkan untuk mengukur rentang toleransi dari intoleransi hingga hipertoleransi. Kuesioner disebarkan kepada 500 responden dari gereja-gereja yang dipilih secara acak, dan data dianalisis menggunakan teknik statistik pada data kategoris dan berkelanjutan untuk memetakan hubungan antarvariabel. Hasil menunjukkan bahwa responden memiliki kematangan spiritual tinggi (M=4,96) (SD=0,64), religiusitas intrinsik kuat (M=4,36) (SD=0,74), dan religiusitas ekstrinsik rendah (M=2,58) (SD=0,79). Temuan mengenai toleransi mengindikasikan pola yang beragam. Intoleransi cenderung tinggi terhadap praktik tertentu seperti penggunaan perhiasan (97,8%) dan pemakaian celana panjang oleh perempuan di gereja (62,5%). Sebaliknya, tingkat toleransi tinggi terlihat pada isu moral dan sosial seperti perzinahan (94,10%), perilaku homoseksual (93,30%), pendeta yang memiliki anak sebelum pertobatan (89,30%), serta perbedaan pandangan doktrinal (85,30%). Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkap bahwa toleransi beragama di kalangan umat Advent di Indonesia bersifat multidimensional dan dipengaruhi secara signifikan oleh kematangan spiritual serta orientasi keagamaan. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan memperluas kajian psikologi agama melalui pemetaan empiris hubungan antara kematangan spiritual, orientasi beragama, dan variasi toleransi beragama dalam konteks komunitas keagamaan minoritas di Indonesia.