Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Estetika Qs. An-Nur [24]:35 (Analisis Tematik Terhadap Penafsiran Ibnu Katsir Dalam Kitab Tafsirnya Al-Qur’an Al ‘Adhim) Muzaki, Bagus Ahmad; Natsir, Abdul; Zulkarnain, Iskandar
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v6i1.495

Abstract

Mengingat banyaknya makna nur yang perlu difahami dalam al-Qur’an. Dengan begitu penggalian mengenai nilai-nilai estetika yang ada dalam term nur dalam QS. An-Nur ayat 35, penting adanya. Karena dengan mengetahui hakikat cahaya Allah yang digambarkan dengan perumpamaan dalam QS. An-Nur ayat 35 dapat digali nilai-nilai estetika yang kemudian dijadikan sebuah pengetahuan terkait ragam makna kata nur yan disebutkan dalam al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik. Tafsir tematik merupakan suatu metode yang mengarahkan pandangan kepada satu tema tertentu, lalu mencari pandangan al-Qur’an tentang tema tersebut dengan jalan menghimpun semua ayat yang membicarakannya, menganalisis dan memahami ayat demi ayat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan makna estetika penafsiran surah An-Nur ayat 35 menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya Al-Qur’an al-‘Adhim serta mengetahui ayat-ayat yang berkaitan dengan Nur. Berdasarkan hasil penelitian ini Adapun yang dimaksud pada pembahasan dalam surah Al-Nur ayat 35 kali ini adalah sebuah keestetikan Nur (cahaya) yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dalam ajaran Islam, Allah juga menggunakan cahaya sebagai makna penerangan, makna yang jauh dari konotasi negatif. Allah bahkan menggunakan cahaya untuk memisalkan Dzat-Nya yang Agung, hingga menjadikannya salah satu nama Surat Al-Qur’an, yaitu An-Nur. Ia menyebutkan satu ayat secara khusus, yaitu Surat An-Nur 35, mengenai Diri-Nya sebagai Sang Maha Cahaya. Di dalam al-Qur'an, cahaya dapat memiliki makna spiritual dan fisis sebagaimana Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut. Dalam arti spiritual cahaya dipahami sebagai agama, petunjuk, iman dan kitab suci (al-Qur'an). Sedangkan dalam arti fisis cahaya di dalam al-Qur'an diartikan sebagaimana cahaya dalam pandangan ilmu fisika dan sains.
Qira'at Sab'ah in Tahajud Prayer: A Bourdieusian Analysis of Religious Practice Maulaya, Muhammad Dzikru Alfin; Illiyyun, Naili Nimatul; Ayun, Nurul; Masruri, Hamdan Al; Muzaki, Bagus Ahmad
QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/qist.v5i1.16294

Abstract

This study examines how the tradition of reciting the Qur'an using the seven canonical readings (Qira'at Sab'ah) during tahajud prayer at Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Ringinagung, Kediri, represents an example of the Living Qur'an that is, the Qur'an as a text that is not only read, but lived and practiced in everyday life. While most studies on Qira'at Sab'ah tend to focus on technical aspects of recitation or its historical development, relatively little attention has been given to how this tradition is implemented and sustained within the institutional life of Islamic boarding schools (pesantren). This research employs a qualitative approach, utilizing direct observation, in-depth interviews, and document analysis as primary methods of data collection. The analysis is framed through Pierre Bourdieu's theoretical concepts of habitus (internalized dispositions), capital (resources such as knowledge and social support), and field (social arena). The findings indicate that the practice of reciting Qira'at Sab'ah during tahajud prayer gradually forms a natural and embodied habitus among the students (santri). From Pierre Bourdieu's theoretical perspective, this study finds that the tradition of Khatam Qirā'āt Sab'ah in Tahajud prayer is socially constructed and continuously reproduced through the dialectical interplay of habitus, capital, and field within the pesantren, thereby reinforcing the Living Qur'an paradigm and demonstrating that Qirā'āt practices function not merely as devotional acts but as institutionalized and legitimized socio-religious practices. This research contributes to the mobilization of religious and intellectual capital possessed by teachers, such as Ustadz Faiq Faizin, to strengthen and legitimize this tradition within the social sphere of the pesantren. This practice not only enhances the students' memorization of the Qur'an, but also deepens their appreciation and understanding of the diversity of Qur'anic recitations.