Pondok pesantren tempat dimana seseorang ingin mendalami ilmu terutama ilmu agama, dimana pondok pesantren ini sudah sangat berkembang di kalangan masyarakat. Pesantren juga menjadi solusi terbaik untuk para orang tua yang menginginkan anaknya belajar ilmu agama, pesantren pada saat ini juga tidak kalah modern dengan sekolah-sekolah bergengssi di luar. Pesantren modern yang dulunya hanya sekedar mengaji kitab, sekarang juga dapat menyetarakan dengan kecanggihan dan modern nya zaman. Didalam sebuah pondok pesantren juga stidak luput untuk mengajarkan santrinya untuk terus berakhlaqul karimah dengan menjunjung tinggi dan menerapkan akhlaq nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dibalik itu semua pondok pesantren juga pasti memiliki kendala dalam menerapkan itu semua, dimana tmasih banyak konflik-konflik yang tejadi di dalam pondok pesantren sendiri. Seperti perilaku bullying yang hampir terjadi deseluruh pondok pesantren yang bahkan menganggap hal itu sudah menjadi tradisi di pesantren. Hal tersebut pastinya sangat berdampak buruk pada pesantren sendiri, dan untuk korban bullying. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying tersebut. Maka kami tertarik untuk menggalih informasi tentang apa saja faktor yang mempengaruhi bullying dan apa saja dampak yang terjadi akibat bullying tersebut. Dan disini kami mencoba untuk menerapkan manajemen konflik apakah hal ini dapat membantu untuk mengurangi perilaku bullying tersebut. Kami melakukan melakukan penelitian di salah sebuah pondok pesantren di jember yaitu PONPES NURUL ISLAM yang berada di jember. Kami mengambil lima orang santri yang merupakan korban bullying di pondok pesantren tersebut, kami menggunakan teknik wawancara agar dapat menggali informasi tentang faktor dan dampak yang terjadi pada korban.