Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Tahlili Amal Al-Syaitan Perspektif Al-Qur’an Surah Al-Qasah Ayat 15 Arif Rahman; Yan Abdillah Amir
Rahmad : Jurnal Studi Islam dan Ilmu Al-Qur'an Vol 1 No 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71349/rahmad.v1i1.1

Abstract

This study aims to reveal the ‘amal al-syait}a>n (deeds of the devil) in QS. al-Qas}as}/28: 15. This type of research is qualitative and takes the form of literature research. The approach used is the interpretation approach. The data used are primary data sourced from the Koran and books of interpretation and secondary data, including related works and other references that can support research, then processed and analyzed using the Tahlili method. The results of the research show that the essence of ‘amal al-syait}a>n (deeds of the devil) in QS. al-Qas}as}/28: 15 are all forms of action, whether committed by humans or jinn, where these actions contain hatred and hostility and are considered disgraceful, cause evil, iniquity, and disbelief so as to keep the perpetrator away from the truth and mercy of Allah swt. Form of ‘amal al-syait}a>n (deeds of the devil) in QS. al-Qas}as}/28: 15, namely emotions, haste in making decisions, and murder.
Persepsi Masyarakat Desa Tambe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Terhadap Desain Masjid Mursalin; Arif Rahman
Rahmad : Jurnal Studi Islam dan Ilmu Al-Qur'an Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71349/rahmad.v1i2.7

Abstract

This study aims to reveal the perceptions of the people of Tambe village, Bolo district, Bima district about the mosque design (a study of Qs. al-Taubah/9: 107-108).This type of research is qualitative and is presented descriptively. This research took place from September to February 2023. The primary data sources in this study were religious leaders, religious instructors, youth leaders, and the general public. Secondary data includes books, magazines, newspapers, television, radio and other relevant written works. Data collection methods include observation and interviews. The research instruments used were cameras, voice recorders, pens, notebooks. Data analysis was carried out by means of data condensation, data presentation, and drawing conclusions. Whereas the people of Tambe village, Bolo sub-district, Bima district, generally disagree with the design of a mosque that resembles a building or place of worship of another religion, although there are some who argue that there are pros and cons in social media, none of the interview researchers agreed with mosque design that resembles other religious buildings. In the Qur'an, there is no specific explanation that discusses the design of the mosque specifically, but there are verses that explain the dhirar mosque, namely QS. al-Taubah/9:107–108. It can be concluded from the interpretation of these verses that the dhirar mosque is interpreted as a mosque established with the intention of endangering or causing harm to the Muslims. The verse does not provide a specific explanation about the shape of the mosque, but the mosque is quite clean and faces the Qibla. So that people feel comfortable in worshiping or worshiping their god.
Larangan Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Sumber Penghasilan Perspektif Imam Nawawi Dalam Kitab at-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an: Introduction, Metode Penelitian Biografi Singkat Imam Nawawi, Hasil Penelitian dan Pembahasan, Kesimpulan M Khairul Rahman; Arif Rahman
Rahmad : Jurnal Studi Islam dan Ilmu Al-Qur'an Vol 2 No 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71349/rahmad.v2i2.25

Abstract

Tulisan ini memebahas tentang larangan menjadikan sebagai sumber penhasilan, al-Qur’an tidak hanya sebagai ladang dakwah, lebih dari itu mereka menyisipkan niat untuk mencari uang bahkan ladang bisnis dengan mematok tarif-tarif ataupun upah dari hasil mereka membaca al-Qur’an baik melalui khataman maupun dalam bentuk haflah tilawah al-Qur’an, hingga tatkala bisyaroh yang mereka dapatkan tidak sesuai ekspetasi mereka cenderung mengungkit kembali apa yang telah mereka lakukan. Berbeda dengan masa para ulama salaf yang mengajarkan al-Qur’an merupakan sebuah kewajiban bagi mereka tanpa mengharapkan sesuatu apapun dari manusia dan hanya mengharapkan ridho Allah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. yang mana di dalamnya terdapat terdapat proses pengumpulan data di berbagai sumber seperti kitab dan buku-buku yang relafan dengan penelitian, kemudia di komparasikan dengan keadaan masa kini. Hasil peneliian menunjukan bahwa para ulama berbeda dalam menentukan hukum menerima dan memberi upah terhadap para pengajar al-Qur’an, mulai ada yang membolehkannya secara mutlak hingga mengharamkannya secara mutlak dan adapula yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu. Hukum kebolehan mengambil upah dari mengajarkan al-Qur’an ada yang membolehkan secara mutlak sebagaimana madzhab imam Syafi’i dan Maliki dan ada juga yang haramkannya secara mutlak seperti madzhab imam Hanafi serta ada pula yang membolehkan dengan syarat harus adanya kebutuhan terhadapnya. Imam Nawawi dalam kitabnya al-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an yang cenderung menghimbau para hamil al-Qur’an agar senantiasa memurnikan niat semata-mata karena Allah ta’ala kendatipun beliau tidak memberikan penegasan mengenai hukum bagi dia yang menjadikan al-Qur’an sebagai sumber penghasilan.