Articles
TIME AS DISTENTIO ANIMI ACCORDING TO SAINT AUGUSTINE
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 1 No. 2 (2018): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v1i2.4
Apakah waktu? Apakah waktu itu ada? Bagaimana mengukurnya? Pertanyaan-pertanyaan yang luput dari perhatian kita tetapi Agustinus telah menjawabnya. Jelas waktu itu ada dan ia ada karena ia “lewat” dalam hidup kita. Bagi Agustinus waktu itu adalah distentio animi atau penggelembungan jiwa. Disebut “pengegelembungan” karena waktu adalah suatu dialektika antara 3 hal: memori, perhatian dan harapan. Penggelembungan jiwa membawa masa lalu dan yang akan datang pada saat ini yang sedang lewat. Masa lalu, masa depan dan sekarang selalu hadir dalam jiwa. Dalam masa lalu ada memori, dalam masa depan ada harapan dan saat ini ada perhatian dan ketiganya adalah aktivitas dari jiwa. Waktu itu adalah suatu dialektika tiga hal “sekarang”: sekarang tentang hal-hal masa lalu, sekarang tentang hal-hal sekarang dan sekarang tentang hal-hal yang akan datang.
DIALOG FILOSOFIS MAIMONIDES: JEJAK PEMIKIRAN AL-FĀRĀBI DALAM PANDANGAN RELASI FILSAFAT DAN AGAMA MAIMONIDES
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v2i1.7
The questions about relation between philosophy and religion always raise discussions among scholars and philosophers. It is not only about “philosophic” and “religious” problem but aslo extends to the truth and role of both in a society. Maimonides offers his solution to resolve this issue. He proposes a harmonization of both “truths” since they came from the same Source. In Maimonides’ mind, philosophy and religion have an essential role in establishing a society. Maimonides, of course, does not stand alone to resolve this probem. His main sources are Platonic and Aristotelian philosophy interpreted by Arabic masters in Arabic philosophical tradition particularly by Al-Fārābi. Maimonides tries as he can to analyze Judaism philosophically. He establishes his concept on relation between philosophy and religion on the thesis natural division of human beings.
ANALISIS PANDANGAN POLITIK THOMAS AQUINAS
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v2i2.17
Thomas Aquinas bases his political theory on the Aristotelian philosophy. Man is zoon politicon says Aristotle in his famous work the Politics. Politics in Thomas’ approach has a glorious purpose that is to create bonum commune. To realize this political program, the Angelic Doctor proposes not only politics in true sense but also ethics. Politics presupposes ethics. In modern society, maybe it would be meaningless if we perceive political reality which makes deep separation and distinction between politics and ethics. The result of this separation, in fact, is a disharmony of society. The disharmony of society in our analysis based on Thomistic political philosophy, derives from an absolut freedom in which man is understood in his ‘nature’ as an autonomistic person.
MELAMPAUI KEBEBASAN: KONSEP KEBEBASAN THOMAS AQUINAS VS KEBEBASAN MODERN
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v5i2.26
Kebebasan manusia terungkap dalam suatu pilihan dan pilihan adalah elemen fundamental hidup manusia. Konsep kebebasan memiliki sejarah yang panjang. Hal itu telah ditafsir oleh para pemikir dalam sejarah filsafat dan agama. Para pemikir religius-filosofis tidak memiliki kesatuan pandangan tentang hal ini. Variasi penafasiran tentang kebebasan telah melahirkan cara pandang yang berbeda tentang kebebasan. Ada yang melihatnya sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan dari intelek dan kehendak karena kebebasan mengalir dari kedua fakultas ini. Sementara yang lain melihatnya sebagai fakultas dari mana akal budi dan kehendak mengalir. Dalam hal ini kebebasan adalah suatu ekspresi yang paling esensial martabat manusia sehingga melahirkan suatu kebebasan mutlak. Variasi penafsiran ini membawa akibat pada cara pandang tentang hidup dan bagaimana hidup ini dijalankan. Pandangan tentang kebebasan melahirkan pertarungan yang tiada henti antara dua gerakan di dunia modern yaitu pro-life dan pro-choice. Artikel ini menghadirkan suatu penafsiran polemik mengenai kebebasan dari perspektif filsafat moral.
KRITIK DAWKINS TERHADAP LIMA JALAN PEMBUKTIAN EKSISTENSI ALLAH THOMAS AQUINAS
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v3i2.32
Thomas Aquinas (1225/1224-1274) is one of greatest thinker in the history of Medieval philosophy. He wrote his par excellence work, called Summa Theologiae. It is a theological work but rich with philosophical arguments. He established his arguments by citing Greek thinkers such as Plato and Aristotle. One of Thomas’ important argument is the prove of God’s existence or what nowdays calls as The Five Ways. Thomas presents his readers that God exists and proves it philosophically than theologically. Richard Dawkins (1941 - ) revives The Five Ways to modern readers by critizing Thomas’ arguments in his The God Delusion. Dawkins bases his critique on the evident character of modern science. His critique is supported by his Darwinism background and his efforts to promote atheism. According to Dawkins, The Five Ways does not prove anything about God. This article tries to examine and interprateThomas’ arguments on The Five Way and how Dawkins reads and critizes it from atheism point of view.
IDE METAFISIKA PARTISIPASI THOMAS AQUINAS SEBAGAI FUNDAMEN PERSATUAN TRANSFORMAN YOHANES SALIB (SEBUAH DIALOG FILOSOFIS-TEOLOGIS)
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v5i1.45
Thomas Aquinas mengambangkan teori metafisika partisipasi. Hal itu berakar dari suatu tradisi filsafat yang panjang dari filsafat Plato mengenai partisipasi Idea yang lebih rendah pada Idea yang lebih tinggi. Dalam tradisi filsafat Plato hal itu merupkan suatu filsafat dalam arti yang murni, tetapi Thomas Aquinas mengembangkan hal itu pada argumen-argumen teologis. Pada abad XVII seorang tokoh spiritual dari Spanyol, Yohanes Salib menggunakan dan mengembangkan ide ini dalam ajaran-ajaran spiritualnya yaitu persatuan antara jiwa dengan Allah. Persatuan ini disebut dengan persatuan transforman. Persatuan ini sebagai puncak dari kehidupan rohani seseorang adalah mungkin dalam hidup ini karena persatuan entitas yang lebih rendah, yaitu jiwa, dengan Allah. Artikel ini berusaha mendalami tradisi perkembangan ide partisipasi dari ide filosofis- metafisik kepada ide teologis, dan pada akhirnya pada ide spiritual.
UNIO TRANSFORMAN YOHANES SALIB
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v6i1.51
Santo Yohanes Salib merupakan figur penting dalam teologi spiritual. Dia adalah pujangga Gereja dan menjadi guru hidup rohani. Salah satu ide penting yang diwarikannya kepada kita dewasa ini adalah ajarannya tentang unio transforman. Hal itu disebut persatuan yang mengubah karena jiwa diubah ke dalam Allah. Sesungguhnya dalam sejarah teologi spiritual, persatuan dengan Allah adalah inti dan menjadi akhir dari perjalanan suatu jiwa menuju kepada Sang Pencipta yaitu Allah. Kerenanya unio transforman pertama dan terutama adalah rahmat Allah untuk semua orang Kristen. Hal itu merupakan penggenapan dari rahmat pembaptisan. Dalam hidup praktis ajaran ini dicapai melalui pelaksanaan ajaran Tuhan tentang cinta kasih. Cinta di sini memiliki arti sebagai keutamaan teologal karena hal itu berasal dari Tuhan. Karena itu cinta membawa suatu jiwa yang serius menepuh perjalanan hidup rohani secara langsung bersatu dengan realitas ilahi, yaitu Allah.
GAGASAN GEREJA PERSEKUTUAN (COMMUNIO) DAN KARISMATIK KATOLIK
Simplesius Sandur
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58919/juftek.v5i1.53
Gereja adalah rumah keselamatan bagi umat Allah. Rumah ini didirikan oleh Yesus dan diwariskan kepada para murid-Nya. Ada banyak teori tentang Gereja dan teori-teori tersebut didasarkan pada ajaran suci dan pandangan para teolog. Kita sebut “model-model Gereja” terhadap pandangan-pandangan ini. Salah satu model Gereja adalah Gereja sebagai komunio atau Gereja Persekutuan. Pada poin pertama, hal ini merupakan komunio atau persekutuan dengan Yesus, kemudian komunio antara murid-murid Yesus, komunio mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Ide Gereja komunio ini didasarkan atas Kisah Para Rasul, suatu komunio para rasul setelah kenaikan Yesus ke surga. Dalam dunia modern konsep Gereja komunio berkembang setalah Konsili Vatikan II. Gereja sebagai komunio juga dikembangkan oleh para teolog setelah konsili seperti Congar dan Dulles. Setelah Konsili Vatikan II bertumbuh suatu gerakan dalam Gereja yang disebut dengan Pembaharuan Karismatik atau Gerakan Karismatik Katolik. Gerakan ini bertumbuh dalam Gereja Katoli dan memberikan pengaruh besar kepada Gereja dan perkembangannya di dunia modern terutama mengenai peran awam dalam Gereja. Seperti yang kami amati dalam beberapa hal, ide tentang Gereja Pesekutuan diadopsi oleh gerakan ini. Dapat dikatakan bahwa model Gereja dari Persekutuan Karismatik Katolik adalah suatu bentuk atau aktualisasi dari ajaran Konsili Vatikan II. Dalam artikel ini, kami mencoba melihat dan menjelaskan relasi antara Gereja sebagai komunio dengan Gerakan Pembaharuan Karimatik Katolik.