Tantani binti Longkiad
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SAINT BENEDICTA OF THE CROSS (EDITH STEIN): CROSS AND THE TRUTH Tantani binti Longkiad
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 1 No. 2 (2018): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v1i2.5

Abstract

Pencarian kebenaran sejati merupakan perjuangan setiap orang yang berpikir khususnya mereka yang “skeptik” terhadap kebenaran-kebenaran iman. Edith Stein yang berpersonalitas sangat keras dengan kemampuan intelektualnya yang sangat tinggi berhadapan dengan krisis iman sejak masih muda. Dia tidak percaya kepada eksistensi Allah sebagai seorang Pribadi. Dia adalah seorang “atheist” yang giat mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan – khususnya lewat fenomenologi yang diajarkan oleh Edmund Husssel. Perjumpaannya dengan beberapa filsuf beriman seperti Max Scheller dan Adolf Reinach telah menimbulkan kerinduannya untuk bertobat dan oleh rahmat Tuhan ia dituntun kepada suatu pengalaman iman ketika membaca buku Riwayat Hidup Teresa dari Avila.
IMAMAT: PANGGILAN “ISTIMEWA” KEPADA KEKUDUSAN Tantani Binti Longkiad
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v5i2.27

Abstract

Panggilan sebagai imam merupakan panggilan yang sangat istimewa. Panggilan imamat merupakan anugerah ilahi khusus di dalam rencana kasih dan penyelamatan Allah bagi seluruh umat manusia. Mereka dipanggil untuk tujuan yang luhur dan mulia; untuk menjadi teladan serta harapan dalam menjawab kebutuhan rohani kawanan domba-Nya melalui tugas pelayanan mereka sebagai ‘alter Christus’. Rahmat tahbisan yang diterima oleh para imam membuat mereka menjadi gambar Kristus sendiri, Sang Imam Agung. Sebagai imam mereka mengambil bagian dalam tridharma pokok Kristus, yaitu: “Mewartakan Sabda (nabi/guru), menguduskan umat Allah (imam), dan menggembalakan umat Allah (raja). Namun, karena kelemahan dan dosa, tidak sedikit imam yang telah terseret dalam arus dunia ini dan cenderung menjauhkan diri dari Allah sehingga merusak gambar Kristus dalam diri para imam. Berhadapan dengan tantangan para imam mencapai kekudusan sebagai ‘alter Christus’, penulis tertarik menulis paper ini untuk mencoba mengerti spiritualitas imamat dan mencari sarana terbaik dalam upaya mencapai kekudusan bagi para imam (calon imam).
PERANAN SAKRAMEN REKONSILIASI (TOBAT) DALAM PERKEMBANGAN HIDUP ROHANI Tantani binti Longkiad
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v5i1.47

Abstract

Salah satu kebutuhan paling mendasar dalam perkembangan hidup rohani seseorang adalah bebas dari ikatan dosa aktual dan habitual. Sarana yang paling efektif untuk membebaskan manusia dari ikatan ini adalah Sakramen Rekonsiliasi. Kristus, melalui Gereja-Nya, menyediakan sarana istimewa ini untuk membantu umat beriman agar hidup dalam kemerdekaan anak-anak Allah, bebas dari dosa aktual dan habitual, sehingga mereka berkembang dalam hidup rohaninya, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Sakramen Rekonsiliasi diberikan sebagai sarana penebusan yang efektif setiap kali manusia jatuh dalam dosa, terutama sekali jika seseorang jatuh dalam dosa berat. Sakramen ini memiliki kekuatan rahmat adikodrati yang berasal dari kuasa Roh Kudus untuk mengampuni, menguduskan, membersihkan, menyucikan dan menyelamatkan, melalui kuasa doa dalam rumus absolusi yang diberikan lewat imam, sebagai alter Christi. Persoalannya, mengapa banyak umat beriman tidak berminat untuk pergi mengaku dosa secara sakramental lewat seorang imam? Bagaimana menanggapi persoalan ini?
JALAN KELEPASAN MENURUT SANTO YOHANES DARI SALIB Tantani Binti Longkiad
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v6i1.52

Abstract

Salah satu halangan terbesar bagi manusia untuk mencapai persatuan transforman yang sempurna dengan Allah adalah kelekatan; samaada dalam bidang indrawi maupun rohani. Pertanyaannya, bagaimana mengatasinya? Kelepasan adalah jalan yang bisa membebaskan kita dari kelekatan-kelekatan. St. Yohanes dari Salib sebagai seorang mistikus besar dan pujangga Gereja kiranya dapat memberikan jawaban mengenai persoalan ini.