Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LIVING HADIS DALAM TRADISI NGUPATI DI DESA TALAGASARI KECAMATAN CIKUPA KABUPATEN TANGERANG PERSPEKTIF PSIKOLOGI SOSIAL Abdullah, Abdullah; Haris, Haris; Nurfatsyah Zein, Khumaedi
Action Research Literate Vol. 7 No. 12 (2023): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v7i12.244

Abstract

Penelitian ini membahas tentang hadis tradisi ngupati di Desa Talagasari Kec. Cikupa Kab. Tangerang, tradisi sangatlah penting yaitu melestarikan suatu adat, salah satunya adalah upacara ngupati, dimana tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang telah diberikan oleh Allah. Tradisi ngupati yang dipraktikkan oleh sebagian masyarakat desa Talagasari Kec. Cikupa Kab. Tangerang merupakan salah satu upaya untuk mensyukuri janin yang dikandungnya saat usia kandungan mencapai empat bulan. Rumusan masalah yang ditemukan oleh penulis akan dibahas melalui penelitian yakni Bagaimana living hadis dalam tradisi ngupati di Desa Talagasari Kec. Cikupa Kab. Tangerang? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan living hadis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara serta dokumentasi, adapun dalam menganalisis data yang dilakukan dalam skripsi ini adalah analisis deskriptif dengan menggunakan teori living hadis, fenomenologi dan psikologi. Hasil dari penelitian ini adalah Kegiatan tradisi ngupati di Desa Talagasari Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang yaitu bukan kegiatan biasa akan tetapi kegiatan yang berlandasan dengan hadis Nabi Saw, secara turun temurun yang dilakukan oleh para leluhur terdahulu yang berkembang hingga saaat ini, dengan adanya tradisi ngupati masyarakat dapat lebih bersyukur kepada Allah Swt yang telah mengutus malaikat meniupkan ruh untuk sang janin yang berada didalam kandungan seorang ibu dalam usia empat bulan, supaya sang janin dan ibunya sehat dan dimudahkan dalam proses melahirkan nanti
Digital Archives of Islam Nusantara: Preserving Manuscripts, Oral Traditions, and Local Saints’ Cults in the Age of Platform Capitalism Nurfatsyah Zein, Khumaedi
Islamic Civilization and History Vol. 2 No. 2 (2025): Islamic Civilization and History
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/03yyet38

Abstract

Background: Platform capitalism introduces commercial imperatives that reshape Islamic heritage through algorithmic curation, monetization mechanisms, and data extraction, potentially reproducing colonial power structures in digital preservation.Objective:This study examines how Islam Nusantara heritage communities navigate platform capitalism while maintaining cultural sovereignty and epistemic justice.Method:A qualitative multi-case study combined with digital ethnography analyzed 56 digital archiving initiatives across Indonesia, Malaysia, and Singapore through 47 semi-structured interviews and systematic platform observation during 2023–2024.Findings and Implications:Findings reveal three strategic responses: pragmatic accommodation (67% strategic essentialism), active resistance (89% platform pluralism), and alternative infrastructure development using community-owned repositories. Platform mechanisms transform heritage through algorithmic optimization requiring content compression and sensationalization. Indigenous Data Sovereignty-inspired governance models achieve the highest epistemic justice scores (4.7/5) compared to institutional repositories (2.3/5) and platform-mediated models (1.7/5). The research contributes a decolonial digital heritage governance framework emphasizing community-controlled metadata standards, CARE Principles adaptation for Islamic contexts, and policy recommendations for platforms, governments, and international heritage organizations to support community data sovereignty.Conclusion:The study demonstrates that while platform capitalism reshapes Islamic digital heritage through algorithmic and commercial logics, community-driven governance models grounded in data sovereignty provide more equitable and epistemically just pathways for digital preservation.