Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI MANAJEMEN KRISIS GOJEK: PERAN KOMUNIKASI, MEDIA, DAN IMPLIKASI BAGI PERUSAHAAN TEKNOLOGI Calvin Jeconiah
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 7 No. 5 (2025): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v7i5.11287

Abstract

Studi ini mengeksplorasi strategi komunikasi krisis yang digunakan oleh Gojek, perusahaan teknologi terkemuka di Indonesia, dalam mengelola hubungan masyarakat selama krisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana Gojek secara efektif menangani isu-isu seperti pemogokan pengemudi, keluhan pelanggan, dan tekanan regulasi, khususnya di era digital di mana informasi menyebar dengan cepat melalui media sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode tinjauan pustaka, studi ini menganalisis berbagai teori dan praktik manajemen krisis, dengan fokus pada peran hubungan masyarakat dalam mengurangi dampak krisis terhadap reputasi perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan komunikasi yang transparan, respons cepat, dan keterlibatan media sosial yang strategis oleh Gojek berkontribusi signifikan dalam memulihkan kepercayaan publik. Penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi krisis dalam menjaga loyalitas pelanggan dan reputasi merek. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi perusahaan berbasis teknologi lainnya dalam mengelola krisis dan mempertahankan persepsi publik yang positif di dunia yang semakin digital.
PERAN MEDIA DIGITAL DALAM MEMPENGARUHI PERSEPSI PUBLIK TERHADAP KANDIDAT PRESIDEN 2024 Calvin Jeconiah
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 7 No. 6 (2025): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v7i6.11375

Abstract

Media sosial memainkan peran penting dalam Pemilihan Presiden 2024 dengan memengaruhi persepsi publik, meningkatkan partisipasi pemilih, dan membentuk citra kandidat. Platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, dan YouTube berfungsi sebagai alat komunikasi utama bagi kampanye politik, memungkinkan interaksi langsung antara kandidat dan pemilih. Kampanye digital memungkinkan kandidat untuk menyebarkan visi dan kebijakan mereka secara efektif sekaligus menjangkau pemilih muda. Namun, penyebaran misinformasi yang cepat, kampanye hitam, dan rendahnya literasi digital di kalangan pemilih menimbulkan tantangan besar dalam menjaga proses demokrasi yang adil. Penyebaran hoaks dan informasi palsu yang bermotif politik dapat mendistorsi opini publik serta menciptakan polarisasi. Kampanye hitam, yang sering dilakukan oleh aktor politik atau akun anonim, semakin memperburuk keadaan dengan merusak reputasi kandidat melalui narasi yang tidak terverifikasi. Selain itu, kurangnya literasi digital membuat banyak pemilih rentan terhadap manipulasi, sehingga menyoroti perlunya peningkatan edukasi dan langkah-langkah regulasi. Mengatasi tantangan ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah, platform media sosial, dan organisasi masyarakat sipil untuk menerapkan regulasi ketat terhadap misinformasi dan strategi politik yang tidak etis. Menjaga transparansi dalam kampanye politik digital, mendorong komunikasi yang etis, serta mendidik pemilih tentang keterampilan literasi digital yang kritis sangat penting untuk mempertahankan integritas demokrasi. Meskipun terdapat tantangan, media sosial tetap menjadi alat yang kuat untuk keterlibatan politik, memberikan akses yang lebih luas bagi pemilih terhadap wacana dan partisipasi politik. Jika digunakan secara bertanggung jawab, media sosial memiliki potensi untuk memperkuat demokrasi dengan memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik dan meningkatkan keterlibatan sipil dalam proses pemilu.